Rabu, 05 Juni 2019

UNTITLED (dan saya menemukan ini di draft blog ini tertanda tahun 2013)


Mengimpikanmu dalam setiap kata yang tak sempat terucap
Membayangkanmu dalam setiap tatapan tak terartikan
Begitu sulitkah untuk menyukaimu?
Atau, begitu tidak mungkinkah kau menyukaiku?
Aku bahkan berdiri sangat dekat dekat denganmu di suatu masa,
Tetapi kau tidak menyapaku dengan sebuah senyuman,
Kau hanya menatapku seperti kau menatap orang asing
Sedikit melukaiku tetapi aku tak menyadarinya...
Karena perasaan saat berdekatan denganmu lebih membuatku gugup.
Ketika aku menjauh darimu di saat yang lain,
Rasanya seperti ada sebagian dari tubuhku yang hilang.
Aku tak tahu itu apa.
Dan bagaimana itu terjadi.
Itu benar- benar sangat membingungkan.
Mungkin seperti ini rasanya menyukai seseorang.
Tidak benar-benar membuat kita mati
Tetapi tetap juga ada bagian yang berbeda
Aku mungkin terlalu jauh untuk berpikir bahwa ini luka.
Aku tak berharap ini luka. Dan bahkan tak menyadari sakitnya.
Seharusnya ketika melihatmu bersama dengan seseorang yang mungkin sangat berarti bagimu, seharusnya aku merasa patah hati.
Atau mungkin perasaan ingin mati.
Tetapi, ini bahkan jauh lebih baik dari perkiraanku.
Karena saat menyukaimu benar-benar mengesankan untukku, aku tak berpikir jika patah hati akan menghapusnya.
Karena kau begitu indah, dan membuatku tidak menyadari bahwa aku terluka.
Yeah, meskipun ini singkat, tetapi ini sangat menyenangkan.
Senang mengenalmu dalam masa ini.
Kau membuatku merasakan banyak hal.
Mengingat banyak hal.
Dan juga melupakan banyak hal.
Kau membuatku berpikir bahwa menyukai seseorang itu sangat menyenangkan.
Kau membuatku menikmatinya.
Dan tak membuatku menangis tersedu-sedu.
Aku benar-benar sangat senang mengenalmu dalam masa yang rumit ini.
Kau bahkan tidak membuatku merasa benar-benar rumit dengan perasaan ini.
Terima kasih karena membuatku benar-benar bersemangat untuk menjalani apa yang pada awalnya membosankan.
Kalau saja aku memiliki kepercayaan diri yang lebih,
Kalau saja aku secantik Song Hye Kyoo,
Dan kalau saja aku semenarik Emma Watson,
Aku mungkin akan menghampirimu dan berkata bahwa aku benar-benar menyukaimu,
Tetapi karena aku hanyalah aku, aku hanya dapat menganggapmu seperti orang asing
Seperti kau juga menganggapku.
Kelak, jika kita berjumpa lagi
Entah itu di koridor atau di dalam lift,
Kuharap kau tersenyum padaku
Setidaknya sebagai orang yang pernah sekelas...

Jumat, 31 Januari 2014

Trust Me April Part 1- b


Aku merasa tidak sia-sia usaha kakek memaksaku memakai kacamata untuk membantu penglihatanku yang benar-benar sangat buruk. Penglihatan buruk ini sebenarnya tidak menunjukan bahwa aku adalah seorang kutubuku atau yang sejenisnya. Percayalah! Aku bahkan selalu tertidur di menit ketiga saat aku membaca paragraf keempat buku Anatomi Fisiologi Sistem Respirasi atau bahkan akan langsung bermimpi saat menyusuri satu rumus Newton mengenai teori gravitasi. Aku sangat tidak suka membaca dan tidak berniat menjadi kutubuku seperti sosok Helen di sinetron Kepompong dengan kata-kata khasnya yang sangat mengerikan buatku, ‘Menurut Buku yang Gue Baca...’.
Ini hanya akibat membaca Detektif Conan –komik (manga) dengan tokoh utama seorang detektif SMA bernama Shinichi Kudo yang mengecil akibat diberi obat oleh anggota sebuah organisasi hitam hingga membuat tubuhnya mengecil- dan bermain game online tentang bagaimana seorang anggota tim rahasia menangkap penjahat besar dengan petunjuk. Selain itu, kebiasaan menonton film action setiap tengah malam semakin memperparah kondisi mataku. Aku bersyukur bahwa ayah dan ibuku telah meninggal di saat usiaku belum tujuh tahun sehingga mereka tidak perlu dibuat kesal dengan kebiasaan burukku ini.
Aku sedang terjebak di perpustakaan, tempat keramat yang selalu menimbulkan sensasi mual dan rasa terbakar di dalam tubuhku. Ini mungkin seperti kondisi saat manusia vampir menderita saat berada di dalam gereja atau saat manusia serigala tidak sengaja masuk ke dalam rumah keluarga vampir dan siap dimangsa.
Aku sangat benci perpustakaan, selalu menimbulkan sensasi mual di dalam perutku dengan aroma halaman buku yang usang yang menjijikan. Zaman sudah sangat maju, seluruh informasi bahkan tersedia di google, lalu untuk apa perpustakaan? Manusia sangat rumit –tentu saja selain aku-, telah disediakan fasilitas yang mudah tetapi masih saja mencari kesulitan dengan menyusuri tiap barisan kata di dalam buku tebal hanya untuk mencari informasi yang sama denganku saat aku menggunakan search engine di google.
Aku menundukan kepalaku di antara buku ‘How The Human’s Brain  Works’ yang memiliki tebal sekitar duaribu halaman untuk menghindari sosok Inggry yang mengejar-ngejarku hanya untuk menanyakan pendapatku mengenai manakah yang lebih dulu ada, telur atau ayam. Inggry adalah satu-satunya sosok aneh dan membingungkan yang pernah kutemui seumur aku bernafas dengan menggunakan oksigen. Gadis dengan hidung sedikit pesek dan berwajah oriental serta memiliki rambut ikal berwarna hitam sehitam tulisan bold di komputer itu selalu membuatku jengkel dengan pertanyaan anehnya yang tidak memerlukan jawaban. Untung saja ia telah berhenti bertanya apakah telur puyuh yang dimakan akan menetas di dalam perut kita.
Sambil menarik nafas lega saat mengintip Inggry menjauh dari rak besi tinggi yang menyimpan buku-buku tentang otak –salah satu bukunya adalah ‘How The Human’s Brain  Works’- yang merupakan tempat di mana aku bersembunyi, aku menarik nafas panjang dan mengatur gagang kacamataku yang sedikit miring ke kanan itu.
Saat itulah aku melihatnya. Melihatnya dengan sangat jelas dari balik bingkai kacamata merah tuaku yang membantu aku agar dapat memfokuskan penglihatan jarak jauhku. Membantuku untuk terfokus memandangnya yang berada sekitar dua meter dari arahku.
Seorang cowok jangkung yang sedang berdiri memunggungiku dengan jarak dua meter dariku sambil membaca buku mengenai Kontusio -semacam gegar otak akibat CSF (cerebrospinal Fuid) yang bergoyang-. Aku mendesis tak percaya. Punggungya pun bahkan terlihat sangat indah dan tentu saja seksi. Untung aku berbelok ke perpustakaan saat menghindari pertanyaan aneh Inggry sehingga aku dapat melihat salah satu keajaiban dunia yang benar-benar ‘wow’ di mataku. Keajaiban dunia yang bahkan lebih indah dari menara Eifell di Paris.
Aku berjalan memutar di belakang rak buku tersebut sehingga berpindah ke sisi lainnya, dan dapat melihat sosok itu dengan jelas.
Sesosok cowok bertubuh jangkung yang memiliki rambut ikal berwarna cokelat tua seleher dengan ekspresi wajah dingin yang entah mengapa membuatnya terlihat menarik dan penuh pesona. Matanya yang sipit dengan iris berwarna cokelat terang itu begerak perlahan menyusuri tiap barisan huruf pada halaman buku bertajuk kontusio yang dicetak dengan huruf italic tebal di bagian covernya. Sejenak aku berpikir untuk apa cowok ganteng, seksi, dan penuh pesona ini berkutat dengan buku usang yang memabukan itu ketika ada mesin pencari yang disediakan google. Namun, ketika melihatnya sangat serius membaca sambil bibirnya yang tipis berwarna merah muda itu mengunyah apel hijau, semuanya jadi terasa indah. Bahkan, warna biru tua tembok perpustakaan itu seketika terang bercahaya.
Apel hijau yang dipegang tangan kirinya tinggal setengah dengan bekas gigitannya yang bahkan terlihat sangat memesona. Ini seperti melihat bekas gigitan seorang vampir ganteng dan langka seperti Edward Cullen yang terlihat seksi. Sedetik aku berpikir bagaimana jika aku berubah menjadi sebuah apel hijau, lalu perlahan dia menggenggam aku dengan sangat kuat, dan yeah tentu saja  ini merupakan bagian favoritku saat ia memakan apel hijau itu –maksudnya aku yang telah berubah menjadi apel hijau- dan bibirnya menyentuh apel itu. Aku bahkan deg-degan dengan sangat ketika membayangkan itu, padahal jelas sosok yang aku kagumi berada dua meter jauhnya dariku, dan bahkan aku sama sekali tak mungkin berubah menjadi apel hijau yang sangat beruntung itu.
Dia sangat tampan. Bisikku mengakui pada hati nuraniku yang tanpa protes segera mengiyakan. Ia memakai celana levis biru muda yang sobek di bagian lututnya dan baju kaos berleher bundar berwarna biru langit dengan tulisan PERFECT di depannya. Tangan kirinya menggenggam apel hijau yang tinggal setengah, sedangkan tangan kanannya memegang buku tentang kontusio yang sedang dibacanya dengan sangat teliti. Telinganya terpasang headset berwarna hitam, entah dia sedang mendengarkan lagu jenis apa, mungkin pop atau jazz atau bahkan rock, namun aku sangat yakin pasti lagu itu adalah lagu kesukaannya karena ia terlihat menghentak- hentakan kakinya sambil sedikit menggoyangkan badannya dalam gerakan yang samar.
Namanya Rui. Nama lengkapnya adalah Christian Angelo Rui. Ia benar-benar seorang malaikat yang datang pada saat menjelang natal sehingga ia dinamakan Christian Angelo, pikirku menebak. Angelo dari kata angel yang berarti malaikat dan Christian dari kata christmas yang berarti natal. Lalu Rui? Mungkin, ia dapat disetarakan dengan Hanazawa Rui, seorang tokoh dari komik Hana Yori Dango yang beberapa tahun lalu telah diadaptasi menjadi sebuah drama yang sangat populer di Jepang. Hana Yori Dango yang terdengar akrab di telingaku sebagai F4, yaitu kelompok yang terdiri dari empat orang cowok yang sangat tampan dan memesona, dan Hanazawa Rui yang menjadi cowok cakep dan dingin. Kalau tak salah, versi Taiwannya adalah Hua Zhe Lei (Vic Zhou). Benar-benar sosok yang sempurna.
Kali ini adalah kali pertama aku sangat menikmati berada di dalam perpustakaan. Bahkan aroma kertas buku yang usang dan berubah kekuningan tidak membuatku merasa mual. Aku merasa perpustakaan seperti surga. Dan, pusat dari semua keindahan ini tentu saja adalah Rui. Cowok itu yang selalu mampu membuat segalanya dalam hidupku indah. Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya saat semester pertama di universitas ini dimulai. Aku menyukainya saat pertama kali menatap matanya yang cokelat terang penuh rahasia itu. Sosoknya memancing aura detektifku yang tidak biasa itu menari-nari. Aku bahkan sempat merasa lapar jika menatap matanya yang penuh misteri itu. Aku selalu menyukainya, selain karena ia tampan, juga sangat pintar, murah senyum, dan memesona. Bahkan si gepeng, dosen yang sangat aku bencipun terlihat mengangungkan dia.
“Hai Rui... Udah lama nunggu?” Suara lembut seorang cewek terdengar menghantam gendang telingaku. Aku bergeser satu langkah ke samping sehingga sosokku tersembunyi di ujung rak buku. Mataku yang besar dan bulat mengintai asal suara itu dengan waspada, seolah ia adalah ketua organisasi hitam dalam komik Detektif Conan yang siap menyerang dengan senjata keluaran terbaru yang akan langsung menghentikan nafasku.
Rui menoleh sebentar kepada sosok itu, lalu tersenyum memamerkan kedua lesung pipinya dan susunan giginya yang sedikit berantakan. Ia menutup buku tentang kontusio yang sedari tadi menarik perhatiannya lalu menatap gadis itu dengan senyuman yang membuatku dapat mati karena iri. Meskipun Rui terkenal cowok yang murah senyum, namun ia tidak pernah tersenyum dengan ekspresi seperti itu kepada siapapun selain kepada Chailin. Yeah, kepada gadis itu.
Chailin adalah gadis yang cukup menarik perhatian. Setidaknya, ia tak begitu menarik seperti Emma Watson, Song Hye Kyo atau Kim Tae Hee, namun untuk ukuran kampus kecilku ini, ia termasuk lumayan memesona. Sebenarnya aku tidak berpendapat seperti ini, namun Julio, tetanggaku yang juga adalah teman sekelasku berpendapat seperti itu. Chailin memiliki postur tubuh yang tinggi dan langsing, pinggangnya kecil dan dadanya berukuran normal. Aku tebak, ia pasti memakai bra nomor tigapuluhenam cup C. Rambut Chailin hitam panjang dan tebal serta sangat lurus, wajahnya lumayan dengan hidung mancung dan dagu yang lancip. Aku menoleh sebentar memandang tubuhku. Tidak begitu buruk, namun tidak cantik. Aku hanya gadis dengan pertumbuhan yang terlambat sehingga menginjak usia sembilan belas tahun beberapa minggu lagi, aku hanya mencapai seratus lima puluh dua setengah senti, memiliki dada yang rata dengan bra nomor tiga puluh dua cup A, rambut ikal berwarna cokelat gelap sebahu yang selalu kukuncir sembarang arah, poni yang berantakan. Satu-satunya yang aku banggakan dari tubuhku ini hanyalah mataku yang besar dan bulat karena menurutku mata ini sangat cantik. Namun, dengan mataku ini, Rui tak mungkin menyukaiku.
Aku menjulurkan leherku untuk mengintip lagi, namun tempat di mana aku melihat Rui dan Chailin tadi sudah kosong. Aku menajamkan penglihatanku, mencoba memaksimalkan daya akomodasi mataku untuk melihat lebih jauh dari pusat jangkauanku tadi. Lebih jauh dari dua meter. Dan aku menangkap siluet punggung Rui dan Chailin menjauh menuju pintu perpustakaan sambil bergandengan tangan. Seketika, aku merasa mual dan aroma-aroma dari kertas buku dan suasana perpustakaan, dan dengan lesu aku menarik kakiku menjauhi perpustakaan.
Sambil menatap bayangan Rui dan Chailin yang mengecil lalu menghilang di koridor, aku melihat Inggry berlari kecil ke arahku. Aku menarik nafas. Jangan bilang soal ayam dan telur lagi.
“April, gue cari ke mana-mana...” Inggry memulai sambil tersenyum dengan gayanya yang khas. Aku berdehem pelan sambil memamerkan senyum paling kecut seumur hidupku.
“Gue tadi di perpus.” Jawabku singkat.
“Gue mau tanya sama lo, menurut lo yang lebih dulu ada di dunia ini ayam atau telur...” Inggry memulai, dan aku mendengus dalam hati. Tuh kan... Pasti ayam lagi, telur lagi... Aku kan bukan peternak ayam petelur...

Aku terdiam sambil menatap mie ayam yang sudah membengkak karena tidak kusentuh selama setengah jam. Sasha dan Titha, dua sahabatku yang merupakan anak kembar dengan perilaku normal dan wajah oriental yang mirip menatap penuh arti ke arahku.
“Rui itu keren...” Bisikku putus asa sambil memasang tampang menyedihkan. Sasha yang berada paling dekat dengan kotak tissue berwarna hijau lumut segera menarik secarik tissue dan memberikan kepadaku. Aku meraihnya lalu pura-pura menyapu air mataku yang tak keluar, seperti sinetron-sonetron striping yang sedang trend di Indonesia. Titha tersenyum melihatku.
“Dan, di samping pria keren selalu ada wanita jahat.” Tambah Sasha antusias. “Setidaknya itu yang gue tonton di Four Gifts, drama Taiwan yang lumayan keren.” Tambah Sasha lagi seraya melanjutkan perkataannya dengan sinopsis singkat drama tersebut yang membuatku tak tertarik. Sasha memang maniak drama Taiwan, namun sangat benci drama Korea. Padahal, menurutku mereka sama saja. Tetapi, Sasha menegaskan bahwa mereka itu tidak sama. Ketika ia mengatakan tidak sama, ia akan sangat menekankan kata tidak pada ucapannya yang meyakinkanku atau bahkan siapapun yang mendengarnya bahwa itu sungguh-sungguh tidak sama. Sasha bahkan menekankan perbedaan kata wo ai ni (Taiwan) dan saranghaeyo (Korea) untuk meyakinkanku bahwa itu benar-benar tidak sama.
“Tapi, Chailin kan bukan wanita jahat.” Titha yang memiliki sifat dewasa berkata pelan.
“Tapi dia benar-benar sangat jahat. Setidaknya bagi gue.” Aku merespon sambil mengaduk-aduk mie ayam yang membengkak dan malang.
“Bener tuh, Pril... Gue setuju sama lo. Chailin itu emang perlu disingkirkan. Dia bener-bener bikin Rui terhipnotis. Jadinya, gue, lo, dan semua cewek-cewek di kampus ini gak dapet kesempatan lagi buat deket sama Rui.” Suara Sasha yang cempreng menggambarkan bahwa ia merupakan seorang cewek yang memiliki sifat cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Titha yang duduk tepat di sampingnya, memiliki wajah yang mirip dan bulu mata yang lebih lentik dari Sasha tersenyum lagi.
“Kalo aja gue itu Harry Potter yang punya tongkat sihir. Pasti gue udah ngubah si Chailin jadi Reina.” Gumamku pelan, namun buru-buru ucapanku dipotong oleh suara cempreng Sasha yang sukses membuat jantungku berdegup kencang karena kaget.
“Jangan Harry Potter. Dia kan dodol, Pril. Sihirnya gag manjur. Mending Hermione Granger aja, dia lebih pinter dari Harry. Semua sihirnya pasti manjur. Tinggal gerakin tongkatnya...” Sasha melakukan gerakan berputar dengan tangannya yang digenggam seolah-lah ia sedang memegang tongkat sihir Hermione Granger, “Trus ubah si Chailin jadi Reina. Atau jadi ayam aja biar langsung gue bikin opor...” Lanjut Sasha, dan sukses membuat aku dan Titha tertawa.
Saat sedang tertawa, aku menangkap sosok Rui yang sedari tadi duduk lima meja dari meja yang kududuki bersama si kembar Sasha dan Titha sedang melihatku dalam setengah detik dengan tatapan yang aneh. Atau mungkin perasaanku saja karena ketika aku memfokuskan pandanganku di balik bingkai kacamata merah tua ini, aku melihat Rui dan Chailin sedang tertawa dan bahkan Rui tak menyadari keberadaanku yang duduk lima meja dari tempat duduknya dan Chailin. Aku hanya berpikir bahwa Rui melihatku. Itu bahkan hanya setengah detik. Aku menduga ini akibat aku dan Sasha menyumpahi Chailin dan berencana akan menyihir Chailin menjadi Reina, cewek ceking dengan bau badan yang mencolok dan membuat siapa saja yang berada di dekatnya akan merasa pusing, sehingga akibatnya aku berasumsi bahwa  Rui melihatku dengan tatapan sangat tak biasa selama setengah menit. Sebenarnya aku bahkan tak berniat berkhayal seperti itu.
Aku mengambil tambahan mata pelajaran tentang sistem sensori persepsi di akhir soreku selama dua jam karena semester kemarin, akibat kedunguanku yang tidak tertarik dengan hal yang namanya belajar, aku hanya memperoleh nilai D di lembar nilai semesterku. Aku harus menutup mulut dan menyembunyikan fakta bahwa aku mengulang beberapa mata kuliah lagi di semester ini dari kakekku, karena aku tak mau uang jajanku benar-benar dipotong habis. Semester kemarin saat aku mengulang beberapa mata kuliah, kakek menghukumku dengan  menarik semua jatah uang untuk membeli komik atau DVD action yang sangat aku gemari. Aku harus puas dengan membaca komik yang sama berulang kali atau bahkan menonton DVD yang sama untuk mengobati rasa kesalku. Dan aku tak mau, hal ini terjadi di semester ini juga.
Sasha dan Titha sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Karena trauma menaiki lift yang membuatku berada dalam kondisi yang sangat menyeramkan –terlebih karena di sekitarku tak ada Rui-, maka aku memutuskan untuk menaiki undakan tangga dengan ubin berwarna putih bermotif bunga matahari menuju ke lantai lima, di mana terdapat ruang kelasku untuk mata kuliah sistem sensori persepsi. Aku menyeret langkahku dengan malas. Mata pelajaran yang diulang semseter kemarin. Tentu saja aku tidak akan bertemu dengan Rui. Dia pasti telah lulus dengan nilai excellent dan tidak akan pernah menyadari, bahwa aku, April Skolastika yang merupakan teman sekelasnya mendapatkan nilai poor dan harus mengikuti kelas sistem sensori persepsi sekali lagi.
Dan yang lebih menyakiti lagi, dan bahkan nyaris membuatku sangat ingin menghujam jantungku seperti judul lagunya Tompi, penyanyi Jazz Indonesia yang cukup terkenal bahwa aku pasti akan sekelas dengan Inggry, dan dengan begitu aku akan selalu mendengarnya berceloteh tentang ayam dan telur lagi.
Aku menatap pintu yang terbuat dari kayu jati berwarna cokelat dengan gagang pintu berwarna keemasan meski aku tahu bahwa itu bukanlah sebuah emas yang asli tetapi tetap saja itu terlihat mewah buatku. Ada sebuah papan berwarna hitam bertuliskan angka 500 dengan huruf emas berkilat. Ruang 500. Ruang kelasku untuk mata kuliah sistem sensori persepsi.
Aku masuk. Si gepeng, julukanku untuk bu Yuhe, asisten dosen yang entah mengapa hari ini berdiri di kelas ini menatapku dengan tatapan sinis yang sudah sangat biasa kuterima. Mungkin dia menggantikan Bu Diah, dosen mata kuliah sistem sensori persepsiku. Bukan rahasia lagi bahwa si gepeng sangat tidak menyukaiku. Itu karena aku pernah melemparinya dengan komik Detektif Conan volume 58 beberapa bulan lalu saat ia mengatai bahwa membaca komik adalah hobi anak TK yang tidak punya masa depan, dan jelas bahwa yang ia maksud sebagai anak TK yang tak punya masa depan itu adalah aku.
“April Skolastika, telat empatbelas menit dua puluh delapan detik.” Katanya tajam sambil mengamati stopwatchnya, dan aku menyunggingkan senyum malas sebagai balasan atas perkataannya.
“Peraturannya adalah  limabelas menit. Saya bahkan belum lima belas menit. masih kurang tiga puluh dua detik.” Aku berkata sok sopan sambil kembali menyunggingkan senyum malas.
Si gepeng terdiam sambil menahan masam pada ekspresinya. Aku mengabaikannya karena tak ingin ekspresi menyebalkannya membuat moodku untuk kuliah hilang.
Lalu tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat saat aku menyadari yang duduk di sebelahku, di bagian sudut belakang yang merupakan tempat favoritku adalah Rui. Cowok itu yang selalu membuatku jadi tak karuan. Melihatnya tersenyum menatapku membuat pipiku menjadi panas. Aku bernafas dengan hati-hati, takut jika detak jantungku yang nyaris meledak ini terdengar sampai ke dalam membran timpani (gendang telinga) Rui. Akan sangat memalukan jika Rui sampai tahu ada salah seorang teman sekelasnya yang tidak pintar dan sering bertengkar dengan asisten dosen adalah salah satu dari sekian gadis yang menyukainya. Aku tak mau ketika mengetahui kenyataan yang sangat pedih ini, Rui akan ilfeel dan tak akan memberikan senyumnya padaku. Meskipun aku sangat tidak menyukai Chailin karena Rui menyukainya, tetapi aku juga tidak berharap Rui menyukaiku. Aku benar-benar sangat takut Rui yang selalu tersenyum padaku akan membenciku jika ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Yah, menyukainya dengan sangat.
“Lo ikut kelas ini juga?” Bisik Rui di telingaku saat si gepeng sudah mulai menjelaskan tentang pengertian sistem sensori persepsi.
“Iya, kemaren Cuma dapet D. Poor...” Kataku balas berbisik sambil mencoba memerintahkan otakku agar menyuruh pusat pengatur ekspresi di saraf kranial ke tujuh yaitu facial nerve untuk menahan bibirku agar tidak membentuk senyum sumringah tak jelas yang dapat membuat Ruy ilfeel. “Trus lo ngapain di sini? Ga mungkin ngulang kan? Lo pasti dapat A. Excellent atau very good.” Tambahku lagi sambil menatap wajahnya yang membuatku deg-degan sambil merasakan pipiku menimbulkan semacam hawa panas tersendiri yang unik. Pipi, awas kalo lo berubah jadi merah... Batinku kepada pipiku agar tidak bersemu merah.
“Lo masih mending D. Gue dapet E tau, kalo di Harry Potter disebut...” Rui berhenti sejenak sambil berpikir.
“Troll.” Ucapku, bermaksud menyelesaikan kalimat Rui namun aku tak menyangka bahwa aku menyebut kata troll –makhluk bodoh itu- bersamaan dengan Rui. Lalu, kami berdua tertawa kecil.
“Lo pembaca setia Harry Potter yah?” Rui memulai ketika aku sedang mencoba menata hatiku agar jangan melambung melewati otot abdomenku.
Aku menggeleng. “Penikmat setia filmnya.” Jawabku seadanya, mengurungkan niat untuk berpura-pura menjadi cewek sok kutu buku, meskipun aku memiliki tampang itu. Gadis berponi acak dengan kacamata bertangkai merah tua. “Gue gak tahan baca buku lama-lama. Ngantuk. Gue Cuma suka nonton doank.”
“Padahal bukunya bagus. Lo ga pernah baca bukunya?” Rui bertanya dengan mimik wajah yang membuatku sangat ingin terbang, tak peduli jika akhirnya harus radang otak akibat menabrak plafon ruang kelasku.
Aku menggeleng lagi, berusaha terlihat imut. Dan Rui tersenyum.
Selanjutnya, aku dan Rui berbincang selama sisa kuliah sistem sensori persepsi itu. Aku menceritakan banyak tentang hobiku membaca komik detektif dan menonton film action, dan Rui menanggapinya dengan senyum penuh makna.

Minggu, 13 Oktober 2013

TRUST ME! part: Prolog + 1


PROLOG

Senja itu adalah sebuah senja yang tidak terlupakan seumur hidupku. Oksigen sedingin es keluar masuk perlahan ke dalam paru-paruku, sedikit menyakiti lubang hidungku dan membuat hidungku sedikit gatal dan tak nyaman. Tanganku seolah akan membeku jika tak segera dihangatkan, dan aku masih mencari sarung tangan wolku yang entah aku tinggalkan di mana ketika aku bermain siang tadi. Dingin di senja itu benar-benar menyakiti tubuhku, kuku jari telunjukku tampak membiru seolah seluruh pembuluh darah yang berada di tanganku dan memperdarahi kuku tanganku memprotes dengan cuaca dingin ini.
Aku meringkuk di celah antara pot bunga besar dan tembok di teras belakang rumahku yang aku pikir dapat menyembunyikan seantero tubuh mungilku. Iya, memang benar. Celah antara pot bunga besar itu dapat menyembunyikan aku dari siapapun yang ingin menemukan aku, tetapi celah itu tak dapat menyembunyikan aku dari kejaran rasa dingin yang semakin parah membunuhku. Aku menghirup udara dingin dalam-dalam dan membiarkan bulu hidungku tergelitik oleh udara dingin yang sangat tidak bersahabat itu.
Aku lupa tepatnya tanggal berapa hari itu. Bukan masalah disorientasi waktu yang aku alami sehingga aku sampai melupakan tanggal berapa atau hari apa saat dingin menusuk seluruh pori-pori seantero kulitku. Aku masih terlalu kecil untuk mengingat semuanya dengan baik. Usiaku belum genap tujuh tahun saat badai salju itu terjadi. Aku kehilangan sarung tangan wolku dan jaketku. Aku tidak tahu ada di mana itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua pengalaman itu klise. Dingin terus menampar pipiku dan membuatku mati rasa.
Matahari terus bergerak menuju barat. Rasa dingin yang seakan membunuhku dengan perlahan belum juga pergi. Aku kehilangan arah dan mulai menangis. Di mana ayah? Ibu? Pengasuhku? Atau orang yang aku kenal? Mereka benar tidak dapat menemukanku? Untuk apa aku bersembunyi dari mereka? Apa yang terjadi? Aku menyesal menjadi begitu kecil saat meringkuk di celah pot bunga itu sehingga aku tidak memahami semua hal yang terjadi. Aku hanya tahu bahwa aku harus patuh. Itu saja. Patuh terhadap apa yang dikatakan oleh ayah maupun ibuku. Aku tidak boleh dan tidak pernah boleh melanggar perkataan mereka.
Teras belakang rumahku mulai tertutup butiran salju setinggi 5 sentimeter. Celah pot bunga tempat aku meringkuk juga mulai terisi butiran salju seputih kapas yang perlahan membuatku seluruh kulitku mati rasa. Aku hanya mengenakan stocking tipis dan baju terusan berlengan tanpa kain lain yang akan menyelamatkanku dan masih membeku di salah satu sudut teras, tepat di bawah pot bunga besar yang berisi bunga yang sudah kering. Aku ingin menangis karena takut dan rasa asing serta dingin yang semakin parah mendominasi seluruh tubuhku, tetapi aku ingat pesan ibuku dalam suara yang samar-samar.
“Jangan bersuara dan tunggu ibu di samping pot bunga besar di teras belakang.” Itu pesan ibuku beberapa jam lalu, saat badai salju belum turun. Tetapi, senja akan berganti menjadi malam dan ibu belum datang juga menemuiku. Tak ada yang datang dan aku mulai merasa ingin mati karena dingin. Mungkin, seluruh darah yang mengalir di pembuluh darah di seantero tubuhku mulai membeku.
Aku merapatkan kedua kaki dan tanganku, dan masih terus ingin bertahan di bawah pot bunga besar di teras belakang rumah kami yang masih asing dan baru, karena baru saja ditempati dalam empat hari. Aku berusaha mengabaikan kenyataan bahwa tanganku semakin kaku dan membiru, atau senja telah berubah menjadi malam yang pekat, atau ibu dan ayahku belum datang untuk menemuiku yang sedang menunggu mereka disamping pot bunga besar di teras belakang.
Aku lupa berapa lama aku telah menunggu sosok ayah dan ibuku, atau pengasuhku, atau orang yang aku kenal untuk datang menemuiku, dan menyelamatkanku dari terpaan rasa dingin yang sangat dan membuatku nyaris mati. Rasa dingin yang secara tak kasat mata seolah berhasil membekukan seluruh permukaan paru-paruku, yang akhirnya membuatku memilih untuk menahan nafas selama yang aku bisa agar tidak menyakiti paru-paruku dengan sering.
Aku mengabaikan bunyi-bunyi dan dentuman asing yang sedari tadi terus menggelegar dan menjadi akrab di membrane timpaniku. Aku mengabaikan suara teriakan asing yang terdengar menyayat atau marah. Aku hanya harus bersembunyi di sini sampai ibu datang untuk menemukanku.
Aku bertahan dan berjuang dalam dingin yang semakin parah melumpuhkan tubuhku. Rasanya sungguh sakit, seolah semua tulang di jari tanganku akan terlepas karena dingin. Kulitku sudah membiru, dan aku tak henti-hentinya menggigil dan menangis dalam diam, aku terus bertahan dalam serbuan dingin, dan rasa takut ini. Malam seolah menjadi nyata, pekatnya membuat aku bagai diincar sebuah gelap yang tak dapat aku deskripsikan, seolah hanya tinggal aku seorang yang menghadapi semua ketakutan dan dingin ini.
Tidak, padahal tidak. Masih ada ayah dan ibu. Mereka berkata akan mengurus satu hal. Mengurus hal yang entah apa, sama seperti biasanya. Dan, aku hanya tinggal menunggu kapan mereka kembali.
Aku mulai mengantuk, lupa dengan rasa nyeri dan ketakutan yang sedari tadi aku rasakan, yang rasanya seolah akan membunuhku dan membuatku mati. Aku pikir, rasanya menyenangkan menjadi mengantuk seperti ini, dan sensasi dingin itu seolah semakin jauh.
“Anak itu perempuan. Usianya sekitar enam tahun. Temukan dia.” Suara berat seorang laki-laki bergaung di sekitar tempatku bersembunyi. Alrm bawah sadarku kembali berbunyi. Mataku yang nyaris tertutup kembali terbuka, dan bersamaan dengan itu, rasa dingin, mati rasa,  ketakutan, dan putus asa kembali menguasai semua indera yang ada di tubuhku.
Aku mengintip dengan gerakan yang samar melalui celah pot bunga besar itu, ingin mengetahui apakah yang bersuara itu adalah orang yang aku kenal, atau setidaknya apakah dia orang yang diutus ayah dan ibuku untuk menyelamatkanku.
Dalam pekat malam dan cahaya lampu teras yang tampak remang-remang itu, sosok dengan setelan pakaian hitam itu tidak begitu terlihat jelas. Aku hanya menangkap siluet sosoknya yang tampak kekar dengan tinggi yang sama seperti ayahku dan membawa senjata entah apa tipenya.
Aku bersembunyi lagi setelah menyadari bahwa itu bukanlah sosok yang aku kenali atau sosok yang akan menyelamatkanku. Aku berusaha sedapat mungkin agar tidak  terlihat dan agar tidak berhasil ditangkap oleh sosok itu, yang entah mengapa menurutku akan membunuhku dengan kejam.
Derap langkah kaki beberapa orang terus terdengar di sekitarku. Aku merendahkan badanku dan mulai terkulai dengan salju sebagai alasnya. Derap langkah itu terus terdengar, tetapi belum ada yang menemukanku.
Rasa mengantuk tidak wajar yang tadi sempat kurasakan kembali datang. Aku merebahkan badanku di atas salju dan mulai tertidur, sambil menunggu kapan ayah dan ibuku datang.
Dan sosok laki-laki berbaju hitam itu terus datang dan pergi dari pikiranku. Sosoknya dan sesuatu yang tertulis di belakang bajunya tersebut.
FBI…



Satu
Aku benar-benar takut saat itu.
Aku benar-benar berada di sampingnya, dan dia juga terlihat sama cemasnya dan sama pucatnya seperti aku. Aku dapat merasakan detak jantungnya berlomba beberapa kali lebih cepat dari biasanya saat tak sengaja wajahku menabrak dadanya yang bidang. Aku tak heran, karena tak ada keharusan bahwa seorang laki-laki yang berani pasti tidak merasa takut ketika mengahadapi situasi itu. Aku berada di sampingnya bersama beberapa orang lain dan aku memang merasa sangat takut. Meskipun aku sangat menyukainya, aku juga tak akan begitu bodoh untuk merelakan nyawaku pergi secepat ini, meski aku ada di sampingnya dan kemungkinan aku dan dia bersama-sama berangkat ke neraka itu adalah sama. Toh, dia tidak menyukaiku dan aku juga ingin menikah, meski itu tidak dengan dirinya.
Tiba-tiba saja, lift itu ‘jatuh’ lagi untuk yang ke tiga kalinya. Aku menguatkan hati, mencoba untuk tidak berteriak dan meringis seperti gadis-gadis bodoh lainnya, meski mengabaikan rasa frustasiku yang terus menggelembung di balik dadaku ini. Aku sudah terbiasa untuk membuat diriku terlihat tegar, meski sebenarnya aku menyembunyikan rasa ketakutan yang menusuk-nusuk pembuluh darahku. Aku tak dapat membayangkan jika lift ini jatuh lagi dengan sangat tragis dan sepuluh meter dapat membuat tulang pinggangku remuk dan aku berusaha memikirkan risiko untuk mengalami gegar otak akibat ini. Aku melirik empat sosok yang kukenali sebagai mahasiswa dari fakultas teknik dengan gaya berpakaian yang menurutku sangat keren namun jika aku mengikutinya, aku akan langsung dibunuh oleh si ‘gepeng’, julukanku untuk Bu Yuhe, asisten dosen mata kuliah anatomi fisiologi yang selalu menjunjung tinggi kerapihan yang terkadang membuatku selalu merasa ingin muntah. Di sebelahku ada sosok Thania yang terisak kecil serta sosok Rui yang bernafas naik turun dengan tempo yang stabil. Inggry berdiri tanpa ekspresi di samping Rui, seolah menegaskan bahwa sebentar lagi, seluruh nyawa di dalam lift ini akan tamat.
Lift itu jatuh lagi. Sial, umpatku dalam hati. Padahal, tadi Sasha dan Titha sahabat baikku itu telah memperingatkanku dengan kata-kata yang entah mengapa terasa berbeda saat aku menaiki lift ini. Entah. Aku tak berpikir itu karena faktor keberadaan dia di dalam lift itu yang secara tak kasat mata menarikku masuk ke dalam benda segiempat berukuran 60X60 cm itu yang akhirnya berujung pada tragedi terjebak di dalam lift itu. Aku benar-benar tak berpikir untuk menyukainya dengan sangat, karena aku tahu untuk mewujudkan hidupku yang nyaman, sebaiknya aku menghindarkan diri untuk melakukan itu kepada perasaanku, kedengarannya tak adil untuk hatiku, namun aku setidaknya tahu bahwa yang terbaik untuknya dan atau lebih kepada kebaikanku –karena dia sendiri tak akan merasa keberatan jika banyak gadis menyukainya- adalah melupakan perasaan aneh yang tak pernah dapat aku deskripsikan dengan baik.
Tiba-tiba, lampu di dalam lift itu mati. Sangat gelap. aku dapat merasakan dia di sampingku. Bernafas dengan pelan bersama tujuh orang lainnya yang terkurung sambil berusaha mengirup oksigen seminim-minimnya karena nampaknya oksigen dalam benda yang dapat dengan mudah mengantarkanmu berpindah dari lantai yang satu ke lantai yang lain itu mulai menipis.
“Udah lantai berapa?” bisikku, berusaha terdengar ceria sambil menyunggingkan senyum kecut saat lampu di lift itu kembali menyala.  “Antara dua dan satu.” Jawabnya singkat. “Suara-suara orang di luar udah kedengaran. Bentar lagi nyampe.”  Tambahnya dengan senyum.
Oh Tuhan, di saat menegangkan seperti ini, aku bahkan masih dapat terkena pesona senyumnya. Seperti sihir, aku bergumam di dalam hati sambil berniat menambahkan ‘pesona sihir’ ke dalam catatan kecilku yang bertajuk ‘Deskripsi Tentang Rui’. Aku terkikik sebentar dalam hati, lalu mengembalikan kerasionalan pikiranku pada situasi nyata di mana bahwa saat ini aku sedang terjebak di dalam lift dan kemungkinan untuk mengalami patah tulang atau gegar otak masih sangat besar dan tak terelakan.
Lampu lift mati lagi, dan aku mengalami rasa sesak yang semakin mendominasi, seolah oksigen yang berada di dalam lift itu sudah habis dipakai oleh delapan kepala yang bernafas di lift itu. Setidaknya tidak terhitung dengan makhluk-makhluk sihir lainnya yang mengelilingi tubuh Rui dan menebarkan pesona sihir yang membiusku terhadap pesona Rui.
Tidak saat ini. Pikirku lagi. Aku masih punya seorang kakek tua yang harus aku urusi. Hanya aku yang menjadi harapan satu-satunya. Hanya aku, dan Rui tidak ada di dalamnya.
“Gue sesak nafas ni... Ga tahan!” Thania, teman satu kelasku yang berparas seperti orang Jepang dengan mata sangat sipit serta bulu mata yang setiap hari dilentikan dengan maskara mahal atau ditambah bulu mata palsu itu meringis di antara desah-desah pikiranku yang entah mengapa menjadi tak karuan.
“Jangan ngomong mulu, Than... Ntar oksigennya habis.” Inggry, gadis  yang terkenal paling monoton dan paling membingungkan di kelasku menyela ucapan Thania dengan nada bicara datar yang malah terdengar seperti peramal yang sedang mengatakan bahwa dua menit lagi malaikat kematian akan mencabut nyawamu. Ucapan itu tidak membuat Thania terdiam, malah sebaliknya semakin menangis meraung-raung, seolah ia benar-benar melihat malaikat kematian dengan sayap yang hitam dan usang serta dengan ekspresi mata yang dingin tak berperasaan datang kepadanya serta menghununskan sebilah pedang di lehernya yang putih. Sungguh tidak membantu.
Aku mengelus pundak Thania dengan lembut, seolah berbisik tanpa suara kepadanya kita bakal baik-baik aja. Lo, gue, dan semua orang di dalam lift ini masih bisa hidup dan menikah serta punya anak... Aku pasti akan keluar dari lift ini, tentu saja dengan nyawa yang masih utuh dalam ragaku dan bahkan dengan keadaan normal tanpa perlu mengalami patah tulang pinggang atau gegar otak. Entah mengapa keyakinan itu sangat kuat merasuk, seolah menegaskan pikiran lain dalam otakku yang tidak aku pahami. Semua akan baik-baik saja hanya karena Rui ada di dalam lift ini.
Lift jatuh beberapa kali lagi, dengan hentakan yang lebih keras dan lebih panjang.
“Sepertinya udah nyampe lantai bawah.” Setelah keadaan lift diam, Rui maju beberapa langkah ke arah pintu lift dan membuka paksa pintu lift itu dengan keyakinan bahwa akan melihat lantai bawah kampusku. Saat dibuka paksa, bukan pemandangan lantai bawah yang ramai mahasiswa, namun pemandangan tembok-tembok dengan tali-tali besi yang perlahan berderek turun.
Aku tak bisa memerintahkan agar Thania tidak menjerit atau agar Inggry yang memiliki suara membosankan itu tidak meloncat ke belakang sehingga membuat lift miring ke kiri dan membuat aku sangat ingin menangis menahan tingkat frustasiku yang sangat tinggi saat ini. Pemandangan lift yang sesungguhnya sering aku lihat pada fil-film action kesukaanku, bahkan kondisiku saat terjebak lift seperti ini sangat mirip dengan salah satu adegan favoritku di film mandarin yang diperankan oleh Jet Lee saat Jet Lee keluar dari lift dan bergantungan di tali-tali besi berdiameter cukup besar yang menggantung lift saat bekerja. Dan aku merasa, Jet Lee sangat seksi saat itu. Tetapi, saat ini aku tidak menemukan hal-hal yang dapat membuatku berdecak kagum dan merasa seksi, dan malah aku merasa sangat frustasi hingga ingin menangis.
“ Ada orang di dalam?” Sebuah suara berat dari luar memanggil, dan langsung disahur Rui dengan cepat.
“Ada. Delapan orang.” Jawab Rui, dan aku melihat empat orang mahasiswa teknik di sebelahku tersenyum sumringah, seolah ada secercah sinar yang baru saja muncul di dalam ruangan dingin dan kelam yang membebaskan mereka dari kemelut dan kematian yang tersirat. Aku pikir, situasi ini mungkin seperti saat Conan Edogawa, tokoh manga kesukaanku berhasil memecahkan kasus pembunuhan dalam ruangan tertutup, atau seperti saat Harry Potter berhasil mengalahkan Lord Voldemort.
Petugas membuka pintu lift dengan paksa, dan setelah terkurung selama 20 menit, aku berhasil meloncat keluar lift, disambut oleh pelukan hangat teman-temanku.
Aku melirik ke arah lift. Rui adalah sosok terakhir yang meloncat turun dari dalam kotak berukuran 60X60 cm itu yang ternyata dapat membuat tingkat frustasi dan putus asaku memuncak, sejenak dia menarik nafas lega dan menghilang di depan loket keuangan mahsiswa, bergabung bersama berpuluh-puluh mahasiswa yang sedang bersedak-desakan di sana untuk mengurusi pembayaran kuliah di semester baru ini.
“April, kita selamat!!!” Thania dan Inggry berlari sambil menangis lalu  merangkulku dengan pelukan kuat yang nyaris membuat insiden kekurangan oksigen dalam lift itu terulang kembali. Aku menarik nafas lega sambil terkikik sebentar melihat maskara Thania luntur akibat air mata yang membuat kelopak matanya hitam. Dan itu benar-benar sangat jelek.


to be continued...

Sabtu, 12 Oktober 2013

Dear First Love

Mungkin kau sedang berada sekota denganku, sangat dekat dengaku, atau entah di manapun kau saat ini. Beberapa waktu terakhir, aku mulai berpikir dengan sebuah kedewasaan yang perlahan tumbuh di dalam otakku yang kecil ini. Kau tahu bahwa aku melewatkan banyak tahun dengan perasaan suka yang begitu besar kepadamu. Menyukaimu adalah perasaan aneh pertama yang terjadi dalam hidupku, dan aku selalu memikirkan itu bahkan bertahun-tahun setelahnya. Aku mengunjungi sebuah sekolah tinggi yang sama denganmu. Aku pikir, aku akan mengikutimu sepanjang hidupku hingga kau berpaling untuk melihatku. Aku berjanji bahwa aku akan selalu memegang tanganmu, bahkan jika kau selalu ingin melepaskan dan membuang aku ke jalan yang berlawanan denganmu. Aku merasa bahwa jika aku tidak melihatmu dalam beberapa waktu saja, nafas hangat yang ada dalam tenggorokanku mungkin saja hilang. Aku merasa jika kau pergi begitu jauh dariku, matahari akan membeku dan dunia perlahan akan kiamat. Aku menyukaimu dengan semua kegilaan yang aku bahkan tak tahu berasal dari mana, tiba-tiba saja perasaan gila itu menyusupi lapisan-lapisan perasaanku dan membuatku menjadi sesuatu yang penuh dengan kegilaan.

Dulu aku begitu mencintaimu, perasaan cinta yang begitu saja tumbuh dan menetap selama bertahun-tahun, membuatku hanya melihatmu, ingin terus melihamu, dan akan selalu melihatmu. Membuatku tidak bisa meninggalkan bayanganmu bahkan dalam satu detik hidupku. Perasaan cinta yang lebih mirip sebuah virus gila yang membuatku menangis dan tersenyum dalam waktu bersamaan. Perasaan yang bahkan membuatku akan mati jika mendengarmu menyukai orang lain.

Aku kembali ke kota yang sama denganmu, setelah delapan tahun sejak aku pertama kali bertemu denganmu. Kau tahu apa yang aku rasakan saat ini? Aku pikir, aku tidak menyukaimu lagi. Aku pikir aku mulai membenci semua tentangmu dan menyesali semua waktuku yang terbuang hanya karena dirimu. Kau tak pernah tahu, tentu. Dan kau tak pernah menginginkan atau meminta aku menjadi seperti ini. Aku tahu kau tak pernah berharap aku melewatkan banyak waktuku dengan semua perasaan asing tak bernama yang membuatku terkukung dalam lara berkepanjangan. Aku tahu kau tak pernah menginginkan aku untuk menjadi malang seperti yang pada akhirnya aku alami. Tetapi, jutaan kata pembelaan tak akan benar-benar membuatmu bersih dari  kesalahan yang tanpa sadari telah kau lakukan. Kesalahan dengan membiarkan diriku menjadi seperti ini. aku membenci semua air mata dan rasa sakit yang aku alami, untuk semua penantian tak berujung, dan untuk hal lain yang aku lepas hanya karena dirimu. Yah, kau benar. Aku sangat picik tentang perasaanku sendiri.

Aku tak menyukaimu lagi seperti saat pertama kali jantungku bergolak dengan irama tak beraturan yang membuat pipiku bersemu merah. Aku hanya ingin menganggapmu seperti aku menganggap kebanyakan orang dalam hidupku. Aku menangisi semua waktuku yang terbuang, semua sosok yang kulewatkan hanya karena dirimu, dan pada akhirnya hanya aku sendiri yang tersisa. Aku marah dengan dirimu, dengan kebodohanku yang akhirnya membuat aku menangis sendiri. Aku membuang ribuan cinta hanya untuk sebuah penyesalan mengerikan yang harus aku tangisi dalam sebuah senyum kepalsuan. Aku mengutuki semua perasaan cinta yang menenggelamkanku dalam sebuah jurang tak kasat mata sehingga aku bahkan tak tahu bagaimana untuk keluar dari sana dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Kau tahu, aku membuang jutaan detik berhargaku, melewati pagi dan senja hanya menulis untukmu, dan akhirnya aku memaki semua tulisan konyol yang hanya membuatku terlihat tolol dan menyedihkan. Aku menulis ribuan angan dalam jutaan sajak indah yang akhirnya hanya berlabuh dalam sebuah tempat sampah tak berharga. Kau benar, aku membuang waktu delapan tahun yang sangat berharga, aku melewati banyak orang dengan banyak cerita, meninggalkan mereka dengan kebahagiaan mereka dan berjalan ke arah yang tak seharusnya. Dan aku ingin membunuh diriku karena bahkan tak sanggup untuk memperbaiki sedikit saja dari semua kesalahanku karena dirimu.

Aku membenci dirimu, dan semakin membenci dirimu. Aku memiliki perasaan suka kepada beberapa orang yang terlihat sepertimu, seolah-olah aku melihat dirimu dalam bentuk lain yang aku ekspektasikan. Aku menyukai beberapa orang karena memiliki telinga yang sama sepertimu, punggung yang mirip, tatapan mata yang nyaris sama, atau bahkan orang dengan potongan rambut yang sama denganmu. Aku melihat sosokmu dalam semua bagian-bagian kecil dari orang yang aku temui, dan menempatkan diriku ke dalam level gila yang semakin tinggi dan menyedihkan. Aku membuat semua orang terlihat sama denganmu, semakin sering dan membuat diriku bergelung dengan semua penyakit saraf yang tak ada obatnya. Aku manyakiti ribuan perasaan dan tak dapat meminta maaf untuk itu. Aku akan sangat membencimu.

Jika kau ada di kota yang sama denganku saat ini, sebua kota dengan atmosfir dingin yang seolah akan membekukan jutaan neuron di tubuhmu, aku tak tertarik untuk melihatmu. Jika aku mendengar bahwa kau akan menikah dengan perempuan yang sangat kau cintai, aku tak akan pernah menangis. Jika aku berpapasan denganmu di sebuah takdir, jantungku tak akan berdebar dengan irama yang salah. Jika aku melihatmu dari kejauhan, aku akan berbelok ke arah yang lain dan menghindarimu. Dan jika, kau datang dalam takdirku, aku akan menolakmu menjauh. Aku tak akan menulis untukmu, dan tak akan pernah berusahan berjalan ke arahmu. Delapan tahun setelah ini, dan setelahnya lagi, dan setelahnya lagi, takdir kita tak akan pernah bersinggungan. Kau dan aku akan berbagi jalan, kita akan berjalan berdampingan tetapi tak akan pernah bersinggungan, lalu kita akan menjauh.

Kau tahu, begitulah cara aku mencintaimu selanjutnya, Meky.

Senin, 09 September 2013

Angelica


Bagimana aku memulai kisah ini?
Namaku? Jika yang kau maksud adalah panggilan yang terkadang sering dilupakan orang itu, maka aku akan mengatakannya. Angelica. Begitu aku dinamai,meski tak ada yang benar-benar tahu atau peduli. Oke,maksudku, siapa yang peduli jika bahkan kau dilahirkan dengan nama Angelina Jolie? Kau toh tak benar-benar dianggap bernapas dan berbagi oksigen di dunia ini. Apalagi ketika kau dinamai Angelica. Malaikat. Kau bahkan akan dikira transparan dan tak teraba seperti malaikat yang lain. Mungkin.
Aku pikir, manusia pada dasarnya adalah sama. Mereka terbuat dari sekumpulan daging dan tulang yang dapat berjalan dengan baik. Dan sekilo daging lembut berwarna merah muda di dalam kepala mereka yang dapat membuat mereka berpikir. Oke, aku tidak pernah meremehkan daging dan tulang berjalan itu karena pada dasarnya, meskipun manusia itu hanyalah daging dan tulang, mereka banyak menciptakan hal-hal besar. Mereka menemukan bagaimana menciptakan pesawat yang dapat terbang seperti burung, atau sebuah roket yang dapat menembus ruang angkasa  dan mungkin membuatmu berpotensi tersedot ke  dalam blackhole.
Waktu berjalan seperti seharusnya. Detik berpindah dan meninggalkan sebuah kekosongan yang bahkan aku sendiri bingung bagaimana untuk mengisinya. Kau tahu, hidup di dunia yang sama dan berbagi tempat dengan yang lain adalah sebuah hal yang sulit. Terkadang kau akan menangis dengan sangat banyak, lalu kau tertawa. Begitulah hidup. Jika kau menangis dengan sangat banyak dan merasa sangat sedih, kau hanya perlu bertahan dan menanggungnya. Bukankah semua manusia melalui hal ini sehingga mereka dapat hidup hingga tua?
Aku selalu seperti ini, aku berdiri dengan sangat tegak dan sangat kuat, tetapi mereka terus saja melewatiku. Aku bertahan dan terus berjuang, tetapi tak ada yang benar-benar memperhatikanku. Aku berusaha dengan sangat keras, tetapi tak ada yang peduli. Aku di sini sepanjang waktu, tetapi tak ada yang benar-benar sadar bahwa aku ada, di sini. Aku pikir, jika aku benar-benr menghilang, mungkin tak ada yang menyadarinya. Aku pikir, itu lucu. Tentu, aku tak akan benar-benar menghilang.
Matahari baru saja terbit. Empat orang mahasiswa, tiga perempuan dan satu laki-laki dengan almamater universitas berwarna hitam melewatiku.
“Ada seorang cowok yang merasa dirinya paling ganteng.” Si cowok memulai sambil melirik genit kepada salah seorang cewek berambut cokelat yang  berada tepat di sebelahnya.
“Elu donk, Rick…” Goda cewek berponi yang berjalan di sisi yang berseberangan dengan si cowok itu.
“Emang gua ganteng, Lola. Tapi, cowok yang gua certain ini tentu bukan gua.” Cowok itu melirik kepada cewek berponi yang bernama Lola itu.
“Paling juga curcolan elu pake modus cerita orang.” Cewek berambut cokelat merespon ucapan cowok itu.
“Sok tau lu,  Anggi.” Si cowok tersenyum sambil mengacak rambut cokelat cewek yang bernama Anggi. “Mau denger ga lanjutannya?”
“Engga.” Lola dan Anggi menyahut bersamaan, dan cowok itu tersenyum.
“Kalo Jelita mau denger ga?” Cowok yang dipanggil Rick itu memandang ke arah gadis sipit yang berjalan tepat di sebelah Anggi. Jelita tersenyum lalu menggeleng.
“Ga mau denger cerita lebay Erick.” Jelita merespon sambil terkikik. Cowok dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter dan memiliki mata hitam sejuk itu ternyata bernama Erick. Erick mendengus marah sambil berjalan dengan mempercepat langkahnya.
“Oke, ceritanya batal.” Erick merespon kesal, mengabaikan cekikikan lucu dari Lola, Anggi, dan Jelita.



Aku mau dengar, Erick…
Aku ingin mengatakan itu saat melihat Erick berlalu dari hadapanku dengan ekspresi wajah kesal. Well, aku sangat ingin mengatakan bahwa aku ingin mendengar ceritanya. Sangat. Tetapi, suaraku benar-benar tak dapat keluar dan tak pernah sampai padanya.
Erick adalah cinta pertamaku. Melihat mata hitamnya yang sejuk membuat aku merasa sesak nafas dan sulit untuk berbicara. Aku akhirnya hanya berceloteh di dalam hati, mengabaikan keinginan membuncahku untuk berbicara dengannya.
Semua orang yang pernah jatuh cinta pasti akan berusaha untuk terlihat di mata orang yang disukainya. Dia ingin diperhatikan dan dianggap oleh orang yang sangat ia suka. Aku berusaha begitu keras untuk terlihat bagi Erick. Aku berusaha berdiri dengan segala kemampuan dan keberanianku agar Erick dapat menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku benar-benar berusaha, tetapi dia tak pernah berpaling. Mungkin, aku memang transparan sehingga dia tak benar-benar menganggapku ada.
Beberapa hari setelahnya, aku bertemu lagi dengan Erick. Kali ini, Erick hanya berjalan berdua dengan Anggi sambil berbicara dengan sangat pelan. Mereka nampak sangat dekat, dan fakta itu membuat aku sangat cemburu. Aku ingin memotong diriku menjadi sepuluh lalu menguburnya di dalam tanah yang penuh dengan cacing dan belatung sehingga aku tidak perlu merasakan marah, sakit hati, dan kesedihan dalam waktu yang bersamaan. Anggi dengan rambut cokelatnya yang indah terlihat begitu serasi di samping Erick. Dan aku hanya bisa menangisi nasibku sendiri. Begitu tak kelihatankah aku sehingga dia terus melewatiku tanpa pernah menoleh padaku? Well, aku sangat ingin tersedot ke dalam blackhole daripada harus melihat Erick dan Anggi melewatiku dalam kemesraan yang terus meluluhlantahkan hatiku.
Aku masih di sini saat pertama kali aku melihat Erick dan merasa jatuh cinta padanya. Aku terus di sini saat Erick melewatiku dan berjalan begitu dekat dengan Anggi. Aku terus di sini, berharap Erick melihatku dan menyukaiku. Well, jika menyukaiku adalah khayalan yang terlalau tinggi, aku hanya ingin dia tersenyum padaku. Oke, hanya menganggapku ada juga cukup untukku.
Aku berdoa pada Tuhan, beberapa kali dalam sehari agar setidaknya Erick menoleh dan melihatku. Aku sungguh sangat menyukainya dan ingin terus menyukainya sepanjang hidupku. Aku berharap, ketika aku bertemu dengan Erick ketiga kalinya, dia menyadari bahwa ada seorang Angelica yang menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Ada seorang Angelica yang ingin mendengar cerita-ceritanya di saat tak ada seorang pun di dunia yang ingin mendengar ceritanya. Aku ingin dia tahu tentang hal itu.
Aku masih berdiri di sini dua bulan setelahnya, dan aku tak pernah melihat Erick selama waktu itu. Aku tak tahu dia berada di mana atau mengapa dia tak pernah melewati jalan ini, jalan di mana aku bertemu dengannya. Aku begitu merindukannya sehingga aku menjadi semakin sakit dan buruk.
Musim hujan berakhir dan musim kemarau menyapa. Aku masih ingat bagaimana aku pertama kali bertemu dengan Erick dan jatuh cinta padanya. Mata hitamnya yang sangat sejuk membuat sekujur tubuhku ikut merasakan kesejukan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Aku selalu sendiri melewati setiap detik hidupku yang Nampak membosanka dan minim cerita, lalu Erick hadir dan mewarnai seluruh cerita hidupku yang awalnya hanya sebuah tulisan putih hitam membosankan dan tak menarik. Dia membuat semua detik dalam hidupku yang mengerikan berubah puitis seperti sajak-sajak indah yang ditulis oleh Khalil Gibran. Semua tentang Erick adalah indah dan sejuk, seperti musim hujan yang baru saja berakhir.
Itu adalah siang yang buruk dan aku begitu lemah untuk terus berdiri di tempat itu. Dari kejauhan, aku melihat Erick berjalan ke arahku, dengan ketiga teman wanitanya yang selalu mengelilinginya. Aku berharap, aku dapat menjadi orang keempat yang berdiri di sampingnya, ikut tertawa saat mendengar cerita-ceritanya, dan mencibirnya keika dia melakukan kekonyolan yang menarik. Panas membuat penglihatanku tak begitu baik tetapi aku terus memfokuskan diri melihat siluet Erick yang semakin mendekat dari kejauhan.
“Ciee…” Lola tersenyum sambil menyikut rusuk Erick saat Erick lewat di hadapanku. Erick tersenyum sambil mengacak rambut Lola.
“Kalo lo ngacak rambut gue, ntar Anggi cemburu lho, Rick…” Lola menjauh dari jangkauan tangan Erick.
“Apaan sih lo, La?” Anggi merespon sambil tersenyum penuh arti kepada Erick.
“Tau deh yang udah jadian…” Jelita tak mau ketinggalan turut meramaikan suasana. Erick tersenyum dan menatap manis ke arah Anggi. Anggi balas menatapnya lalu tersenyum.
“I love you, Anggi.” Erick berkata pelan sambil tersenyum.
Duniaku seperti runtuh. Rasanya seperti ada jutaan belatung menggigit tubuhku, mengunyahku menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak dapat dikenali oleh siapapun. Erick terus berlalu, masih menatap Anggi dengan tatapan penuh cinta. Dia berlalu mengabaikan jutaan air mataku yang akhirnya tumpah. Meninggalkan sebuah rumput liar yang sangat buruk, yang begitu mencintainya dan bertahan untuk melihatnya.
Aku adalah sebuah rumput liar yang jatuh cinta kepada seorang manusia dengan semua kesempurnaan di dalam matanya. Aku begitu mencintainya hingga aku terus bertahan melewati musim panas dan hujan, melewati keringnya tanah dan kerasnya angin, terus berdiri dan bertahan sehingga dapat terus melihatnya. Tetapi sebagaimanapun aku berusaha, meski dengan sangat keras dan tulus, aku tetap hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang mencintai manusia sempurna bernama Erick yang berada di luar jangkauanku.
Kau tahu Erick, aku pikir aku tak mungkin bertahan di musim panas ini. ini adalah musim panas terberat dalam hidupku setelah patah hati terparahku. Aku sangat ingin berdiri tegak tetapi aku tak mampu. Aku pikir aku akan mati di musim panas ini. Aku tak akan pernah melihatmu. Aku berdoa beberapa hari sebelum aku mati untukmu. Aku berhrap kau selalu memiliki kehidupan yang bahagia dengan Anggi. Mungkin mencintaimu adalah hal menyakitkan yang pernah aku rasakan seumur hidupku, tetapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu. Meski aku hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang malang dan tak terlihat, aku selalu ingin kau tahu bahwa aku selalu menyukaimu. Aku tak mengerti bagaimana caranya, tetapi aku dapat mencintaimu dengan semua keterbatasan indera yang dimiliki oleh sebuah rumput liar sampai rumput liar itu mati.



“Erick, apa yang kamu lihat?” Anggi menatap Erick saat Erick berhenti sesaat di sebuah jalanan ramai itu. Erick masih terdiam dam terus menatap kosong.
Erick hanya terdiam. Pandangannya menunjukan jutaan kesedihan yang tak mampu dibahasakan.
“Sayang, kamu kenapa sih?” Anggi bertanya lagi, kali ini sambil ikut menengok ke arah tempat yang ditatap Erick.
“Rumput liar yang ada di situ sepertinya udah mati.” Erick menjawab seadanya sambil menunjuk ke pinggir jalan itu.
“Rumput liar?” Anggi mengulang tak paham.
“Dulu, dia selalu ada di sana setiap kita melewati jalan ini. Aku tahu, aku selalu melihatnya.” Erick mengakhiri kata-katanya dengan seulas senyum kesedihan saat menatap tempat tumbuhnya Angelica yang tampak kosong.
Meskipun kisah cinta sang rumput lia bernama Angelica itu berakhir tragis, tetapi setidaknya dia tahu bahwa Erick selalu menatapnya jauh sebelum dia menyadari kehadiran Erick.

the end...