Aku merasa tidak sia-sia usaha kakek
memaksaku memakai kacamata untuk membantu penglihatanku yang benar-benar sangat
buruk. Penglihatan buruk ini sebenarnya tidak menunjukan bahwa aku adalah
seorang kutubuku atau yang sejenisnya. Percayalah! Aku bahkan selalu tertidur
di menit ketiga saat aku membaca paragraf keempat buku Anatomi Fisiologi Sistem
Respirasi atau bahkan akan langsung bermimpi saat menyusuri satu rumus Newton
mengenai teori gravitasi. Aku sangat tidak suka membaca dan tidak berniat
menjadi kutubuku seperti sosok Helen di sinetron Kepompong dengan kata-kata
khasnya yang sangat mengerikan buatku, ‘Menurut
Buku yang Gue Baca...’.
Ini hanya akibat membaca Detektif Conan
–komik (manga) dengan tokoh utama seorang detektif SMA bernama Shinichi Kudo
yang mengecil akibat diberi obat oleh anggota sebuah organisasi hitam hingga
membuat tubuhnya mengecil- dan bermain game
online tentang bagaimana seorang anggota tim rahasia menangkap penjahat
besar dengan petunjuk. Selain itu, kebiasaan menonton film action setiap tengah
malam semakin memperparah kondisi mataku. Aku bersyukur bahwa ayah dan ibuku
telah meninggal di
saat usiaku belum tujuh tahun sehingga
mereka tidak perlu dibuat kesal dengan kebiasaan burukku ini.
Aku sedang terjebak di perpustakaan,
tempat keramat yang selalu menimbulkan sensasi mual dan rasa terbakar di dalam
tubuhku. Ini mungkin seperti kondisi saat manusia vampir menderita saat berada
di dalam gereja atau saat manusia serigala tidak sengaja masuk ke dalam rumah
keluarga vampir dan siap dimangsa.
Aku sangat benci perpustakaan, selalu
menimbulkan sensasi mual di dalam perutku dengan aroma halaman buku yang usang
yang menjijikan. Zaman sudah sangat maju, seluruh informasi bahkan tersedia di google, lalu untuk apa perpustakaan?
Manusia sangat rumit –tentu saja selain aku-, telah disediakan fasilitas yang
mudah tetapi masih saja mencari kesulitan dengan menyusuri tiap barisan kata di
dalam buku tebal hanya untuk mencari informasi yang sama denganku saat aku
menggunakan search engine di google.
Aku menundukan kepalaku di antara buku ‘How The Human’s Brain Works’ yang memiliki tebal sekitar duaribu
halaman untuk menghindari sosok Inggry yang mengejar-ngejarku hanya untuk
menanyakan pendapatku mengenai manakah yang lebih dulu ada, telur atau ayam.
Inggry adalah satu-satunya sosok aneh dan membingungkan yang pernah kutemui
seumur aku bernafas dengan menggunakan oksigen. Gadis dengan hidung sedikit
pesek dan berwajah oriental serta memiliki rambut ikal berwarna hitam sehitam
tulisan bold di komputer itu selalu
membuatku jengkel dengan pertanyaan anehnya yang tidak memerlukan jawaban.
Untung saja ia telah berhenti bertanya apakah telur puyuh yang dimakan akan
menetas di dalam perut kita.
Sambil menarik nafas lega saat mengintip
Inggry menjauh dari rak besi tinggi yang menyimpan buku-buku tentang otak
–salah satu bukunya adalah ‘How The
Human’s Brain Works’- yang merupakan
tempat di mana aku bersembunyi, aku menarik nafas panjang dan mengatur gagang
kacamataku yang sedikit miring ke kanan itu.
Saat itulah aku melihatnya. Melihatnya
dengan sangat jelas dari balik bingkai kacamata merah tuaku yang membantu aku
agar dapat memfokuskan penglihatan jarak jauhku. Membantuku untuk terfokus
memandangnya yang berada sekitar dua
meter dari arahku.
Seorang cowok jangkung yang sedang
berdiri memunggungiku dengan jarak dua meter dariku sambil membaca buku
mengenai Kontusio -semacam gegar otak akibat CSF (cerebrospinal Fuid) yang
bergoyang-. Aku mendesis tak percaya. Punggungya pun bahkan terlihat sangat
indah dan tentu saja seksi. Untung
aku berbelok ke perpustakaan saat menghindari pertanyaan aneh Inggry sehingga
aku dapat melihat salah satu keajaiban dunia yang benar-benar ‘wow’ di mataku. Keajaiban dunia yang bahkan
lebih indah dari menara Eifell di Paris.
Aku berjalan memutar di belakang rak
buku tersebut sehingga berpindah ke sisi lainnya, dan dapat melihat sosok itu
dengan jelas.
Sesosok cowok bertubuh jangkung yang
memiliki rambut ikal berwarna cokelat tua seleher dengan ekspresi wajah dingin
yang entah mengapa membuatnya terlihat menarik dan penuh pesona. Matanya yang
sipit dengan iris berwarna cokelat terang itu begerak perlahan menyusuri tiap
barisan huruf pada halaman buku bertajuk kontusio yang dicetak dengan huruf
italic tebal di bagian covernya.
Sejenak aku berpikir untuk apa cowok ganteng, seksi, dan penuh pesona ini
berkutat dengan buku usang yang memabukan itu ketika ada mesin pencari yang
disediakan google. Namun, ketika
melihatnya sangat serius membaca sambil bibirnya yang tipis berwarna merah muda
itu mengunyah apel hijau, semuanya jadi terasa indah. Bahkan, warna biru tua
tembok perpustakaan itu seketika terang bercahaya.
Apel hijau yang dipegang tangan kirinya
tinggal setengah dengan bekas gigitannya yang bahkan terlihat sangat memesona.
Ini seperti melihat bekas gigitan seorang vampir ganteng dan langka seperti
Edward Cullen yang terlihat seksi. Sedetik aku berpikir bagaimana jika aku
berubah menjadi sebuah apel hijau, lalu perlahan dia menggenggam aku dengan
sangat kuat, dan yeah tentu saja ini
merupakan bagian favoritku saat ia memakan apel hijau itu –maksudnya aku yang telah berubah menjadi apel
hijau- dan bibirnya menyentuh apel itu. Aku bahkan deg-degan dengan sangat
ketika membayangkan itu, padahal jelas sosok yang aku kagumi berada dua meter
jauhnya dariku, dan bahkan aku sama sekali tak mungkin berubah menjadi apel
hijau yang sangat beruntung itu.
Dia sangat tampan. Bisikku mengakui pada
hati nuraniku yang tanpa protes segera mengiyakan. Ia memakai celana levis biru
muda yang sobek di bagian lututnya dan baju kaos berleher bundar berwarna biru
langit dengan tulisan PERFECT di depannya. Tangan kirinya menggenggam apel
hijau yang tinggal setengah, sedangkan tangan kanannya memegang buku tentang
kontusio yang sedang dibacanya dengan sangat teliti. Telinganya terpasang
headset berwarna hitam, entah dia sedang mendengarkan lagu jenis apa, mungkin
pop atau jazz atau bahkan rock, namun aku sangat yakin pasti lagu itu adalah
lagu kesukaannya karena ia terlihat menghentak- hentakan kakinya sambil sedikit
menggoyangkan badannya dalam gerakan yang samar.
Namanya Rui. Nama lengkapnya adalah
Christian Angelo Rui. Ia benar-benar seorang malaikat yang datang pada saat
menjelang natal sehingga ia dinamakan Christian Angelo, pikirku menebak. Angelo
dari kata angel yang berarti malaikat
dan Christian dari kata christmas
yang berarti natal. Lalu Rui? Mungkin, ia dapat disetarakan dengan Hanazawa
Rui, seorang tokoh dari komik Hana Yori Dango yang beberapa tahun lalu telah
diadaptasi menjadi sebuah drama yang sangat populer di Jepang. Hana Yori Dango
yang terdengar akrab di telingaku sebagai F4, yaitu kelompok yang terdiri dari
empat orang cowok yang sangat tampan dan memesona, dan Hanazawa Rui yang
menjadi cowok cakep dan dingin. Kalau tak salah, versi Taiwannya adalah Hua Zhe
Lei (Vic Zhou). Benar-benar sosok yang sempurna.
Kali ini adalah kali pertama aku sangat
menikmati berada di dalam perpustakaan. Bahkan aroma kertas buku yang usang dan
berubah kekuningan tidak membuatku merasa mual. Aku merasa perpustakaan seperti
surga. Dan, pusat dari semua keindahan ini tentu saja adalah Rui. Cowok itu
yang selalu mampu membuat segalanya dalam hidupku indah. Aku menyukainya sejak
pertama kali aku melihatnya saat semester pertama di universitas ini dimulai.
Aku menyukainya saat pertama kali menatap matanya yang cokelat terang penuh
rahasia itu. Sosoknya memancing aura detektifku yang tidak biasa itu
menari-nari. Aku bahkan sempat merasa lapar jika menatap matanya yang penuh
misteri itu. Aku selalu menyukainya, selain karena ia tampan, juga sangat
pintar, murah senyum, dan memesona. Bahkan si gepeng, dosen yang sangat aku
bencipun terlihat mengangungkan dia.
“Hai Rui... Udah lama nunggu?” Suara
lembut seorang cewek terdengar menghantam gendang telingaku. Aku bergeser satu
langkah ke samping sehingga sosokku tersembunyi di ujung rak buku. Mataku yang
besar dan bulat mengintai asal suara itu dengan waspada, seolah ia adalah ketua
organisasi hitam dalam komik Detektif Conan yang siap menyerang dengan senjata
keluaran terbaru yang akan langsung menghentikan nafasku.
Rui menoleh sebentar kepada sosok itu,
lalu tersenyum memamerkan kedua lesung pipinya dan susunan giginya yang sedikit
berantakan. Ia menutup buku tentang kontusio yang sedari tadi menarik
perhatiannya lalu menatap gadis itu dengan senyuman yang membuatku dapat mati
karena iri. Meskipun Rui terkenal cowok yang murah senyum, namun ia tidak
pernah tersenyum dengan ekspresi seperti itu kepada siapapun selain kepada Chailin.
Yeah, kepada gadis itu.
Chailin adalah gadis yang cukup menarik perhatian. Setidaknya, ia
tak begitu menarik seperti Emma Watson, Song Hye Kyo atau Kim Tae Hee, namun
untuk ukuran kampus kecilku ini, ia termasuk lumayan memesona. Sebenarnya aku
tidak berpendapat seperti ini, namun Julio, tetanggaku yang juga adalah teman
sekelasku berpendapat seperti itu. Chailin memiliki postur tubuh yang tinggi
dan langsing, pinggangnya kecil dan dadanya berukuran normal. Aku tebak, ia
pasti memakai bra nomor tigapuluhenam cup C.
Rambut Chailin hitam panjang dan tebal serta sangat lurus, wajahnya lumayan
dengan hidung mancung dan dagu yang lancip. Aku menoleh sebentar memandang
tubuhku. Tidak begitu buruk, namun tidak cantik. Aku hanya gadis dengan
pertumbuhan yang terlambat sehingga menginjak usia sembilan belas tahun beberapa
minggu lagi, aku hanya mencapai seratus lima puluh dua setengah senti, memiliki
dada yang rata dengan bra nomor tiga puluh dua cup A,
rambut ikal berwarna cokelat gelap sebahu yang selalu kukuncir sembarang arah,
poni yang berantakan. Satu-satunya yang aku banggakan dari tubuhku ini hanyalah
mataku yang besar dan bulat karena menurutku mata ini sangat cantik. Namun,
dengan mataku ini, Rui tak mungkin menyukaiku.
Aku menjulurkan leherku untuk mengintip
lagi, namun tempat di mana aku melihat Rui dan Chailin tadi sudah kosong. Aku
menajamkan penglihatanku, mencoba memaksimalkan daya akomodasi mataku untuk
melihat lebih jauh dari pusat jangkauanku tadi. Lebih jauh dari dua meter. Dan
aku menangkap siluet punggung Rui dan Chailin menjauh menuju pintu perpustakaan
sambil bergandengan tangan. Seketika, aku merasa mual dan aroma-aroma dari
kertas buku dan suasana perpustakaan, dan dengan lesu aku menarik kakiku
menjauhi perpustakaan.
Sambil menatap bayangan Rui dan Chailin
yang mengecil lalu menghilang di koridor, aku melihat Inggry berlari kecil ke
arahku. Aku menarik nafas. Jangan bilang soal ayam dan telur lagi.
“April, gue cari ke mana-mana...” Inggry
memulai sambil tersenyum dengan gayanya yang khas. Aku berdehem pelan sambil
memamerkan senyum paling kecut seumur hidupku.
“Gue tadi di perpus.” Jawabku singkat.
“Gue mau tanya sama lo, menurut lo yang
lebih dulu ada di dunia ini ayam atau telur...” Inggry memulai, dan aku
mendengus dalam hati. Tuh kan... Pasti ayam lagi, telur lagi... Aku kan bukan
peternak ayam petelur...
Aku terdiam sambil menatap mie ayam yang
sudah membengkak karena tidak kusentuh selama setengah jam. Sasha dan Titha,
dua sahabatku yang merupakan anak kembar dengan perilaku normal dan wajah
oriental yang mirip menatap penuh arti ke arahku.
“Rui itu keren...” Bisikku putus asa
sambil memasang tampang menyedihkan. Sasha yang berada paling dekat dengan
kotak tissue berwarna hijau lumut
segera menarik secarik tissue dan
memberikan kepadaku. Aku meraihnya lalu pura-pura menyapu air mataku yang tak keluar,
seperti sinetron-sonetron striping yang sedang trend di Indonesia. Titha tersenyum melihatku.
“Dan, di samping pria keren selalu ada
wanita jahat.” Tambah Sasha antusias. “Setidaknya itu yang gue tonton di Four Gifts, drama Taiwan yang lumayan
keren.” Tambah Sasha lagi seraya melanjutkan perkataannya dengan sinopsis
singkat drama tersebut yang membuatku tak tertarik. Sasha memang maniak drama
Taiwan, namun sangat benci drama Korea. Padahal, menurutku mereka sama saja.
Tetapi, Sasha menegaskan bahwa mereka itu tidak
sama. Ketika ia mengatakan tidak sama, ia akan sangat menekankan kata tidak pada ucapannya yang meyakinkanku
atau bahkan siapapun yang mendengarnya bahwa itu sungguh-sungguh tidak sama. Sasha bahkan menekankan
perbedaan kata wo ai ni (Taiwan) dan saranghaeyo (Korea) untuk meyakinkanku
bahwa itu benar-benar tidak sama.
“Tapi, Chailin kan bukan wanita jahat.”
Titha yang memiliki sifat dewasa berkata pelan.
“Tapi dia benar-benar sangat jahat.
Setidaknya bagi gue.” Aku merespon sambil mengaduk-aduk mie ayam yang
membengkak dan malang.
“Bener tuh, Pril... Gue setuju sama lo.
Chailin itu emang perlu disingkirkan. Dia bener-bener bikin Rui terhipnotis.
Jadinya, gue, lo, dan semua cewek-cewek di kampus ini gak dapet kesempatan lagi
buat deket sama Rui.” Suara Sasha yang cempreng menggambarkan bahwa ia
merupakan seorang cewek yang memiliki sifat cerewet dan suka mencampuri urusan
orang lain. Titha yang duduk tepat di sampingnya, memiliki wajah yang mirip dan
bulu mata yang lebih lentik dari Sasha tersenyum lagi.
“Kalo aja gue itu Harry Potter yang
punya tongkat sihir. Pasti gue udah ngubah si Chailin jadi Reina.” Gumamku pelan, namun buru-buru
ucapanku dipotong oleh suara cempreng Sasha yang sukses membuat jantungku
berdegup kencang karena kaget.
“Jangan Harry Potter. Dia kan dodol,
Pril. Sihirnya gag manjur. Mending Hermione Granger aja, dia lebih pinter dari
Harry. Semua sihirnya pasti manjur. Tinggal gerakin tongkatnya...” Sasha
melakukan gerakan berputar dengan tangannya yang digenggam seolah-lah ia sedang
memegang tongkat sihir Hermione Granger, “Trus ubah si Chailin jadi Reina. Atau
jadi ayam aja biar langsung gue bikin opor...” Lanjut Sasha, dan sukses membuat
aku dan Titha tertawa.
Saat sedang tertawa, aku menangkap sosok
Rui yang sedari tadi duduk lima meja dari meja yang kududuki bersama si kembar
Sasha dan Titha sedang melihatku dalam setengah detik dengan tatapan yang aneh.
Atau mungkin perasaanku saja karena ketika aku memfokuskan pandanganku di balik
bingkai kacamata merah tua ini, aku melihat Rui dan Chailin sedang tertawa dan
bahkan Rui tak menyadari keberadaanku yang duduk lima meja dari tempat duduknya
dan Chailin. Aku hanya berpikir bahwa Rui melihatku. Itu bahkan hanya setengah
detik. Aku menduga ini akibat aku dan Sasha menyumpahi Chailin dan berencana
akan menyihir Chailin menjadi Reina, cewek ceking dengan bau badan yang
mencolok dan membuat siapa saja yang berada di dekatnya akan merasa pusing,
sehingga akibatnya aku berasumsi bahwa
Rui melihatku dengan tatapan sangat tak biasa selama setengah menit.
Sebenarnya aku bahkan tak berniat berkhayal seperti itu.
Aku mengambil tambahan mata pelajaran
tentang sistem sensori persepsi di akhir soreku selama dua jam karena semester
kemarin, akibat kedunguanku yang tidak tertarik dengan hal yang namanya
belajar, aku hanya memperoleh nilai D di lembar nilai semesterku. Aku harus menutup mulut
dan menyembunyikan fakta bahwa aku mengulang beberapa mata kuliah lagi di
semester ini dari kakekku, karena aku tak mau uang jajanku benar-benar dipotong
habis. Semester kemarin saat aku mengulang beberapa mata kuliah, kakek menghukumku dengan menarik semua jatah uang untuk membeli komik
atau DVD action yang sangat aku gemari. Aku harus puas dengan membaca komik
yang sama berulang kali atau bahkan menonton DVD yang sama untuk mengobati rasa
kesalku.
Dan aku tak mau, hal ini terjadi di semester ini juga.
Sasha dan Titha sudah pulang sejak
setengah jam yang lalu. Karena trauma menaiki lift yang membuatku berada dalam
kondisi yang sangat menyeramkan –terlebih karena di sekitarku tak ada Rui-,
maka aku memutuskan untuk menaiki undakan tangga dengan ubin berwarna putih
bermotif bunga matahari menuju ke lantai lima, di mana terdapat ruang kelasku
untuk mata kuliah sistem sensori persepsi. Aku menyeret langkahku dengan malas.
Mata pelajaran yang diulang semseter kemarin. Tentu saja aku tidak akan bertemu
dengan Rui. Dia pasti telah lulus dengan nilai excellent dan tidak akan pernah menyadari, bahwa aku, April
Skolastika yang merupakan teman sekelasnya mendapatkan nilai poor dan harus mengikuti kelas sistem
sensori persepsi sekali lagi.
Dan yang lebih menyakiti lagi, dan
bahkan nyaris membuatku sangat ingin menghujam jantungku seperti judul lagunya
Tompi, penyanyi Jazz Indonesia yang
cukup terkenal bahwa aku pasti akan sekelas dengan Inggry, dan dengan begitu
aku akan selalu mendengarnya berceloteh tentang ayam dan telur lagi.
Aku menatap pintu yang terbuat dari kayu
jati berwarna cokelat dengan gagang pintu berwarna keemasan meski aku tahu bahwa itu
bukanlah sebuah emas yang asli tetapi tetap saja itu terlihat mewah buatku. Ada sebuah papan berwarna hitam
bertuliskan angka 500 dengan huruf emas berkilat. Ruang 500. Ruang kelasku
untuk mata kuliah sistem sensori persepsi.
Aku masuk. Si gepeng, julukanku untuk bu
Yuhe, asisten dosen yang entah mengapa hari ini berdiri di kelas ini menatapku
dengan tatapan sinis yang sudah sangat biasa kuterima. Mungkin dia menggantikan Bu Diah,
dosen mata kuliah sistem sensori persepsiku. Bukan rahasia lagi bahwa si gepeng
sangat tidak menyukaiku. Itu karena aku pernah melemparinya dengan komik
Detektif Conan volume
58 beberapa bulan lalu
saat ia mengatai bahwa membaca komik adalah hobi anak TK yang tidak punya masa
depan, dan jelas bahwa yang ia maksud sebagai anak TK yang tak punya masa depan itu adalah aku.
“April Skolastika, telat empatbelas
menit dua puluh delapan detik.” Katanya tajam sambil mengamati stopwatchnya, dan aku menyunggingkan
senyum malas sebagai balasan atas perkataannya.
“Peraturannya adalah limabelas menit. Saya bahkan belum lima belas
menit. masih kurang tiga puluh dua detik.” Aku berkata sok sopan sambil kembali
menyunggingkan senyum malas.
Si gepeng terdiam sambil menahan masam
pada ekspresinya. Aku mengabaikannya karena tak ingin ekspresi menyebalkannya
membuat moodku untuk kuliah hilang.
Lalu tiba-tiba jantungku berdetak lebih
cepat saat aku menyadari yang duduk di sebelahku, di bagian sudut belakang yang
merupakan tempat favoritku adalah Rui. Cowok itu yang selalu membuatku jadi tak
karuan. Melihatnya tersenyum menatapku membuat pipiku menjadi panas. Aku
bernafas dengan hati-hati, takut jika detak jantungku yang nyaris meledak ini
terdengar sampai ke dalam membran timpani (gendang telinga) Rui. Akan sangat
memalukan jika Rui sampai tahu ada salah seorang teman sekelasnya yang tidak
pintar dan sering bertengkar dengan asisten dosen adalah salah satu dari sekian
gadis yang menyukainya. Aku tak mau ketika mengetahui kenyataan yang sangat
pedih ini, Rui akan ilfeel dan tak
akan memberikan senyumnya padaku. Meskipun aku sangat tidak menyukai Chailin
karena Rui menyukainya, tetapi aku juga tidak
berharap Rui menyukaiku. Aku benar-benar sangat takut Rui yang selalu tersenyum
padaku akan membenciku jika ia mengetahui bahwa aku menyukainya. Yah, menyukainya dengan
sangat.
“Lo ikut kelas ini juga?” Bisik Rui di
telingaku saat si gepeng sudah mulai menjelaskan tentang pengertian sistem
sensori persepsi.
“Iya, kemaren Cuma dapet D. Poor...” Kataku balas berbisik sambil
mencoba memerintahkan otakku agar menyuruh pusat pengatur ekspresi di saraf
kranial ke tujuh yaitu facial nerve
untuk menahan bibirku agar tidak membentuk senyum sumringah tak jelas yang
dapat membuat Ruy ilfeel. “Trus lo
ngapain di sini? Ga mungkin ngulang kan? Lo pasti dapat A. Excellent atau very good.”
Tambahku lagi sambil menatap wajahnya yang membuatku deg-degan sambil merasakan
pipiku menimbulkan semacam hawa panas tersendiri yang unik. Pipi, awas kalo lo berubah jadi merah...
Batinku kepada pipiku agar tidak bersemu merah.
“Lo masih mending D. Gue dapet E tau,
kalo di Harry Potter disebut...” Rui berhenti sejenak sambil berpikir.
“Troll.” Ucapku, bermaksud menyelesaikan
kalimat Rui namun aku tak menyangka bahwa aku menyebut kata troll –makhluk bodoh itu- bersamaan
dengan Rui. Lalu, kami berdua tertawa kecil.
“Lo pembaca setia Harry Potter yah?” Rui
memulai ketika aku sedang mencoba menata hatiku agar jangan melambung melewati
otot abdomenku.
Aku menggeleng. “Penikmat setia
filmnya.” Jawabku seadanya, mengurungkan niat untuk berpura-pura menjadi cewek
sok kutu buku, meskipun aku memiliki tampang itu. Gadis berponi acak dengan
kacamata bertangkai merah tua. “Gue gak tahan baca buku lama-lama. Ngantuk. Gue
Cuma suka nonton doank.”
“Padahal bukunya bagus. Lo ga pernah
baca bukunya?” Rui bertanya dengan mimik wajah yang membuatku sangat ingin
terbang, tak peduli jika akhirnya harus radang otak akibat menabrak plafon
ruang kelasku.
Aku menggeleng lagi, berusaha terlihat
imut. Dan Rui tersenyum.
Selanjutnya, aku dan Rui berbincang
selama sisa kuliah sistem sensori persepsi itu. Aku menceritakan banyak tentang
hobiku membaca komik detektif dan menonton film action, dan Rui menanggapinya
dengan senyum penuh makna.