Senin, 09 September 2013

Angelica


Bagimana aku memulai kisah ini?
Namaku? Jika yang kau maksud adalah panggilan yang terkadang sering dilupakan orang itu, maka aku akan mengatakannya. Angelica. Begitu aku dinamai,meski tak ada yang benar-benar tahu atau peduli. Oke,maksudku, siapa yang peduli jika bahkan kau dilahirkan dengan nama Angelina Jolie? Kau toh tak benar-benar dianggap bernapas dan berbagi oksigen di dunia ini. Apalagi ketika kau dinamai Angelica. Malaikat. Kau bahkan akan dikira transparan dan tak teraba seperti malaikat yang lain. Mungkin.
Aku pikir, manusia pada dasarnya adalah sama. Mereka terbuat dari sekumpulan daging dan tulang yang dapat berjalan dengan baik. Dan sekilo daging lembut berwarna merah muda di dalam kepala mereka yang dapat membuat mereka berpikir. Oke, aku tidak pernah meremehkan daging dan tulang berjalan itu karena pada dasarnya, meskipun manusia itu hanyalah daging dan tulang, mereka banyak menciptakan hal-hal besar. Mereka menemukan bagaimana menciptakan pesawat yang dapat terbang seperti burung, atau sebuah roket yang dapat menembus ruang angkasa  dan mungkin membuatmu berpotensi tersedot ke  dalam blackhole.
Waktu berjalan seperti seharusnya. Detik berpindah dan meninggalkan sebuah kekosongan yang bahkan aku sendiri bingung bagaimana untuk mengisinya. Kau tahu, hidup di dunia yang sama dan berbagi tempat dengan yang lain adalah sebuah hal yang sulit. Terkadang kau akan menangis dengan sangat banyak, lalu kau tertawa. Begitulah hidup. Jika kau menangis dengan sangat banyak dan merasa sangat sedih, kau hanya perlu bertahan dan menanggungnya. Bukankah semua manusia melalui hal ini sehingga mereka dapat hidup hingga tua?
Aku selalu seperti ini, aku berdiri dengan sangat tegak dan sangat kuat, tetapi mereka terus saja melewatiku. Aku bertahan dan terus berjuang, tetapi tak ada yang benar-benar memperhatikanku. Aku berusaha dengan sangat keras, tetapi tak ada yang peduli. Aku di sini sepanjang waktu, tetapi tak ada yang benar-benar sadar bahwa aku ada, di sini. Aku pikir, jika aku benar-benr menghilang, mungkin tak ada yang menyadarinya. Aku pikir, itu lucu. Tentu, aku tak akan benar-benar menghilang.
Matahari baru saja terbit. Empat orang mahasiswa, tiga perempuan dan satu laki-laki dengan almamater universitas berwarna hitam melewatiku.
“Ada seorang cowok yang merasa dirinya paling ganteng.” Si cowok memulai sambil melirik genit kepada salah seorang cewek berambut cokelat yang  berada tepat di sebelahnya.
“Elu donk, Rick…” Goda cewek berponi yang berjalan di sisi yang berseberangan dengan si cowok itu.
“Emang gua ganteng, Lola. Tapi, cowok yang gua certain ini tentu bukan gua.” Cowok itu melirik kepada cewek berponi yang bernama Lola itu.
“Paling juga curcolan elu pake modus cerita orang.” Cewek berambut cokelat merespon ucapan cowok itu.
“Sok tau lu,  Anggi.” Si cowok tersenyum sambil mengacak rambut cokelat cewek yang bernama Anggi. “Mau denger ga lanjutannya?”
“Engga.” Lola dan Anggi menyahut bersamaan, dan cowok itu tersenyum.
“Kalo Jelita mau denger ga?” Cowok yang dipanggil Rick itu memandang ke arah gadis sipit yang berjalan tepat di sebelah Anggi. Jelita tersenyum lalu menggeleng.
“Ga mau denger cerita lebay Erick.” Jelita merespon sambil terkikik. Cowok dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter dan memiliki mata hitam sejuk itu ternyata bernama Erick. Erick mendengus marah sambil berjalan dengan mempercepat langkahnya.
“Oke, ceritanya batal.” Erick merespon kesal, mengabaikan cekikikan lucu dari Lola, Anggi, dan Jelita.



Aku mau dengar, Erick…
Aku ingin mengatakan itu saat melihat Erick berlalu dari hadapanku dengan ekspresi wajah kesal. Well, aku sangat ingin mengatakan bahwa aku ingin mendengar ceritanya. Sangat. Tetapi, suaraku benar-benar tak dapat keluar dan tak pernah sampai padanya.
Erick adalah cinta pertamaku. Melihat mata hitamnya yang sejuk membuat aku merasa sesak nafas dan sulit untuk berbicara. Aku akhirnya hanya berceloteh di dalam hati, mengabaikan keinginan membuncahku untuk berbicara dengannya.
Semua orang yang pernah jatuh cinta pasti akan berusaha untuk terlihat di mata orang yang disukainya. Dia ingin diperhatikan dan dianggap oleh orang yang sangat ia suka. Aku berusaha begitu keras untuk terlihat bagi Erick. Aku berusaha berdiri dengan segala kemampuan dan keberanianku agar Erick dapat menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku benar-benar berusaha, tetapi dia tak pernah berpaling. Mungkin, aku memang transparan sehingga dia tak benar-benar menganggapku ada.
Beberapa hari setelahnya, aku bertemu lagi dengan Erick. Kali ini, Erick hanya berjalan berdua dengan Anggi sambil berbicara dengan sangat pelan. Mereka nampak sangat dekat, dan fakta itu membuat aku sangat cemburu. Aku ingin memotong diriku menjadi sepuluh lalu menguburnya di dalam tanah yang penuh dengan cacing dan belatung sehingga aku tidak perlu merasakan marah, sakit hati, dan kesedihan dalam waktu yang bersamaan. Anggi dengan rambut cokelatnya yang indah terlihat begitu serasi di samping Erick. Dan aku hanya bisa menangisi nasibku sendiri. Begitu tak kelihatankah aku sehingga dia terus melewatiku tanpa pernah menoleh padaku? Well, aku sangat ingin tersedot ke dalam blackhole daripada harus melihat Erick dan Anggi melewatiku dalam kemesraan yang terus meluluhlantahkan hatiku.
Aku masih di sini saat pertama kali aku melihat Erick dan merasa jatuh cinta padanya. Aku terus di sini saat Erick melewatiku dan berjalan begitu dekat dengan Anggi. Aku terus di sini, berharap Erick melihatku dan menyukaiku. Well, jika menyukaiku adalah khayalan yang terlalau tinggi, aku hanya ingin dia tersenyum padaku. Oke, hanya menganggapku ada juga cukup untukku.
Aku berdoa pada Tuhan, beberapa kali dalam sehari agar setidaknya Erick menoleh dan melihatku. Aku sungguh sangat menyukainya dan ingin terus menyukainya sepanjang hidupku. Aku berharap, ketika aku bertemu dengan Erick ketiga kalinya, dia menyadari bahwa ada seorang Angelica yang menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Ada seorang Angelica yang ingin mendengar cerita-ceritanya di saat tak ada seorang pun di dunia yang ingin mendengar ceritanya. Aku ingin dia tahu tentang hal itu.
Aku masih berdiri di sini dua bulan setelahnya, dan aku tak pernah melihat Erick selama waktu itu. Aku tak tahu dia berada di mana atau mengapa dia tak pernah melewati jalan ini, jalan di mana aku bertemu dengannya. Aku begitu merindukannya sehingga aku menjadi semakin sakit dan buruk.
Musim hujan berakhir dan musim kemarau menyapa. Aku masih ingat bagaimana aku pertama kali bertemu dengan Erick dan jatuh cinta padanya. Mata hitamnya yang sangat sejuk membuat sekujur tubuhku ikut merasakan kesejukan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Aku selalu sendiri melewati setiap detik hidupku yang Nampak membosanka dan minim cerita, lalu Erick hadir dan mewarnai seluruh cerita hidupku yang awalnya hanya sebuah tulisan putih hitam membosankan dan tak menarik. Dia membuat semua detik dalam hidupku yang mengerikan berubah puitis seperti sajak-sajak indah yang ditulis oleh Khalil Gibran. Semua tentang Erick adalah indah dan sejuk, seperti musim hujan yang baru saja berakhir.
Itu adalah siang yang buruk dan aku begitu lemah untuk terus berdiri di tempat itu. Dari kejauhan, aku melihat Erick berjalan ke arahku, dengan ketiga teman wanitanya yang selalu mengelilinginya. Aku berharap, aku dapat menjadi orang keempat yang berdiri di sampingnya, ikut tertawa saat mendengar cerita-ceritanya, dan mencibirnya keika dia melakukan kekonyolan yang menarik. Panas membuat penglihatanku tak begitu baik tetapi aku terus memfokuskan diri melihat siluet Erick yang semakin mendekat dari kejauhan.
“Ciee…” Lola tersenyum sambil menyikut rusuk Erick saat Erick lewat di hadapanku. Erick tersenyum sambil mengacak rambut Lola.
“Kalo lo ngacak rambut gue, ntar Anggi cemburu lho, Rick…” Lola menjauh dari jangkauan tangan Erick.
“Apaan sih lo, La?” Anggi merespon sambil tersenyum penuh arti kepada Erick.
“Tau deh yang udah jadian…” Jelita tak mau ketinggalan turut meramaikan suasana. Erick tersenyum dan menatap manis ke arah Anggi. Anggi balas menatapnya lalu tersenyum.
“I love you, Anggi.” Erick berkata pelan sambil tersenyum.
Duniaku seperti runtuh. Rasanya seperti ada jutaan belatung menggigit tubuhku, mengunyahku menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak dapat dikenali oleh siapapun. Erick terus berlalu, masih menatap Anggi dengan tatapan penuh cinta. Dia berlalu mengabaikan jutaan air mataku yang akhirnya tumpah. Meninggalkan sebuah rumput liar yang sangat buruk, yang begitu mencintainya dan bertahan untuk melihatnya.
Aku adalah sebuah rumput liar yang jatuh cinta kepada seorang manusia dengan semua kesempurnaan di dalam matanya. Aku begitu mencintainya hingga aku terus bertahan melewati musim panas dan hujan, melewati keringnya tanah dan kerasnya angin, terus berdiri dan bertahan sehingga dapat terus melihatnya. Tetapi sebagaimanapun aku berusaha, meski dengan sangat keras dan tulus, aku tetap hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang mencintai manusia sempurna bernama Erick yang berada di luar jangkauanku.
Kau tahu Erick, aku pikir aku tak mungkin bertahan di musim panas ini. ini adalah musim panas terberat dalam hidupku setelah patah hati terparahku. Aku sangat ingin berdiri tegak tetapi aku tak mampu. Aku pikir aku akan mati di musim panas ini. Aku tak akan pernah melihatmu. Aku berdoa beberapa hari sebelum aku mati untukmu. Aku berhrap kau selalu memiliki kehidupan yang bahagia dengan Anggi. Mungkin mencintaimu adalah hal menyakitkan yang pernah aku rasakan seumur hidupku, tetapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu. Meski aku hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang malang dan tak terlihat, aku selalu ingin kau tahu bahwa aku selalu menyukaimu. Aku tak mengerti bagaimana caranya, tetapi aku dapat mencintaimu dengan semua keterbatasan indera yang dimiliki oleh sebuah rumput liar sampai rumput liar itu mati.



“Erick, apa yang kamu lihat?” Anggi menatap Erick saat Erick berhenti sesaat di sebuah jalanan ramai itu. Erick masih terdiam dam terus menatap kosong.
Erick hanya terdiam. Pandangannya menunjukan jutaan kesedihan yang tak mampu dibahasakan.
“Sayang, kamu kenapa sih?” Anggi bertanya lagi, kali ini sambil ikut menengok ke arah tempat yang ditatap Erick.
“Rumput liar yang ada di situ sepertinya udah mati.” Erick menjawab seadanya sambil menunjuk ke pinggir jalan itu.
“Rumput liar?” Anggi mengulang tak paham.
“Dulu, dia selalu ada di sana setiap kita melewati jalan ini. Aku tahu, aku selalu melihatnya.” Erick mengakhiri kata-katanya dengan seulas senyum kesedihan saat menatap tempat tumbuhnya Angelica yang tampak kosong.
Meskipun kisah cinta sang rumput lia bernama Angelica itu berakhir tragis, tetapi setidaknya dia tahu bahwa Erick selalu menatapnya jauh sebelum dia menyadari kehadiran Erick.

the end...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar