Bagimana aku memulai kisah ini?
Namaku?
Jika yang kau maksud adalah panggilan yang terkadang sering dilupakan orang
itu, maka aku akan mengatakannya. Angelica. Begitu aku dinamai,meski tak ada
yang benar-benar tahu atau peduli. Oke,maksudku, siapa yang peduli jika bahkan
kau dilahirkan dengan nama Angelina Jolie? Kau toh tak benar-benar dianggap
bernapas dan berbagi oksigen di dunia ini. Apalagi ketika kau dinamai Angelica.
Malaikat. Kau bahkan akan dikira transparan dan tak teraba seperti malaikat
yang lain. Mungkin.
Aku
pikir, manusia pada dasarnya adalah sama. Mereka terbuat dari sekumpulan daging
dan tulang yang dapat berjalan dengan baik. Dan sekilo daging lembut berwarna
merah muda di dalam kepala mereka yang dapat membuat mereka berpikir. Oke, aku
tidak pernah meremehkan daging dan tulang berjalan itu karena pada dasarnya,
meskipun manusia itu hanyalah daging dan tulang, mereka banyak menciptakan
hal-hal besar. Mereka menemukan bagaimana menciptakan pesawat yang dapat
terbang seperti burung, atau sebuah roket yang dapat menembus ruang angkasa dan mungkin membuatmu berpotensi tersedot
ke dalam blackhole.
Waktu
berjalan seperti seharusnya. Detik berpindah dan meninggalkan sebuah kekosongan
yang bahkan aku sendiri bingung bagaimana untuk mengisinya. Kau tahu, hidup di
dunia yang sama dan berbagi tempat dengan yang lain adalah sebuah hal yang
sulit. Terkadang kau akan menangis dengan sangat banyak, lalu kau tertawa.
Begitulah hidup. Jika kau menangis dengan sangat banyak dan merasa sangat
sedih, kau hanya perlu bertahan dan menanggungnya. Bukankah semua manusia
melalui hal ini sehingga mereka dapat hidup hingga tua?
Aku
selalu seperti ini, aku berdiri dengan sangat tegak dan sangat kuat, tetapi
mereka terus saja melewatiku. Aku bertahan dan terus berjuang, tetapi tak ada
yang benar-benar memperhatikanku. Aku berusaha dengan sangat keras, tetapi tak
ada yang peduli. Aku di sini sepanjang waktu, tetapi tak ada yang benar-benar
sadar bahwa aku ada, di sini. Aku pikir, jika aku benar-benr menghilang,
mungkin tak ada yang menyadarinya. Aku pikir, itu lucu. Tentu, aku tak akan
benar-benar menghilang.
Matahari
baru saja terbit. Empat orang mahasiswa, tiga perempuan dan satu laki-laki
dengan almamater universitas berwarna hitam melewatiku.
“Ada
seorang cowok yang merasa dirinya paling ganteng.” Si cowok memulai sambil
melirik genit kepada salah seorang cewek berambut cokelat yang berada tepat di sebelahnya.
“Elu
donk, Rick…” Goda cewek berponi yang berjalan di sisi yang berseberangan dengan
si cowok itu.
“Emang
gua ganteng, Lola. Tapi, cowok yang gua certain ini tentu bukan gua.” Cowok itu
melirik kepada cewek berponi yang bernama Lola itu.
“Paling
juga curcolan elu pake modus cerita orang.” Cewek berambut cokelat merespon
ucapan cowok itu.
“Sok
tau lu, Anggi.” Si cowok tersenyum
sambil mengacak rambut cokelat cewek yang bernama Anggi. “Mau denger ga
lanjutannya?”
“Engga.”
Lola dan Anggi menyahut bersamaan, dan cowok itu tersenyum.
“Kalo
Jelita mau denger ga?” Cowok yang dipanggil Rick itu memandang ke arah gadis
sipit yang berjalan tepat di sebelah Anggi. Jelita tersenyum lalu menggeleng.
“Ga
mau denger cerita lebay Erick.” Jelita merespon sambil terkikik. Cowok dengan
tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter dan memiliki mata hitam
sejuk itu ternyata bernama Erick. Erick mendengus marah sambil berjalan dengan
mempercepat langkahnya.
“Oke,
ceritanya batal.” Erick merespon kesal, mengabaikan cekikikan lucu dari Lola,
Anggi, dan Jelita.
Aku mau dengar, Erick…
Aku
ingin mengatakan itu saat melihat Erick berlalu dari hadapanku dengan ekspresi
wajah kesal. Well, aku sangat ingin mengatakan bahwa aku ingin mendengar
ceritanya. Sangat. Tetapi, suaraku benar-benar tak dapat keluar dan tak pernah
sampai padanya.
Erick
adalah cinta pertamaku. Melihat mata hitamnya yang sejuk membuat aku merasa sesak
nafas dan sulit untuk berbicara. Aku akhirnya hanya berceloteh di dalam hati,
mengabaikan keinginan membuncahku untuk berbicara dengannya.
Semua
orang yang pernah jatuh cinta pasti akan berusaha untuk terlihat di mata orang
yang disukainya. Dia ingin diperhatikan dan dianggap oleh orang yang sangat ia
suka. Aku berusaha begitu keras untuk terlihat bagi Erick. Aku berusaha berdiri
dengan segala kemampuan dan keberanianku agar Erick dapat menoleh kepadaku dan
tersenyum. Aku benar-benar berusaha, tetapi dia tak pernah berpaling. Mungkin,
aku memang transparan sehingga dia tak benar-benar menganggapku ada.
Beberapa
hari setelahnya, aku bertemu lagi dengan Erick. Kali ini, Erick hanya berjalan
berdua dengan Anggi sambil berbicara dengan sangat pelan. Mereka nampak sangat
dekat, dan fakta itu membuat aku sangat cemburu. Aku ingin memotong diriku
menjadi sepuluh lalu menguburnya di dalam tanah yang penuh dengan cacing dan
belatung sehingga aku tidak perlu merasakan marah, sakit hati, dan kesedihan
dalam waktu yang bersamaan. Anggi dengan rambut cokelatnya yang indah terlihat
begitu serasi di samping Erick. Dan aku hanya bisa menangisi nasibku sendiri.
Begitu tak kelihatankah aku sehingga dia terus melewatiku tanpa pernah menoleh
padaku? Well, aku sangat ingin tersedot ke dalam blackhole daripada harus melihat Erick dan Anggi melewatiku dalam
kemesraan yang terus meluluhlantahkan hatiku.
Aku
masih di sini saat pertama kali aku melihat Erick dan merasa jatuh cinta
padanya. Aku terus di sini saat Erick melewatiku dan berjalan begitu dekat
dengan Anggi. Aku terus di sini, berharap Erick melihatku dan menyukaiku. Well,
jika menyukaiku adalah khayalan yang terlalau tinggi, aku hanya ingin dia
tersenyum padaku. Oke, hanya menganggapku ada juga cukup untukku.
Aku
berdoa pada Tuhan, beberapa kali dalam sehari agar setidaknya Erick menoleh dan
melihatku. Aku sungguh sangat menyukainya dan ingin terus menyukainya sepanjang
hidupku. Aku berharap, ketika aku bertemu dengan Erick ketiga kalinya, dia
menyadari bahwa ada seorang Angelica yang menyukainya sejak pertama kali
melihatnya. Ada seorang Angelica yang ingin mendengar cerita-ceritanya di saat
tak ada seorang pun di dunia yang ingin mendengar ceritanya. Aku ingin dia tahu
tentang hal itu.
Aku
masih berdiri di sini dua bulan setelahnya, dan aku tak pernah melihat Erick
selama waktu itu. Aku tak tahu dia berada di mana atau mengapa dia tak pernah
melewati jalan ini, jalan di mana aku bertemu dengannya. Aku begitu
merindukannya sehingga aku menjadi semakin sakit dan buruk.
Musim
hujan berakhir dan musim kemarau menyapa. Aku masih ingat bagaimana aku pertama
kali bertemu dengan Erick dan jatuh cinta padanya. Mata hitamnya yang sangat
sejuk membuat sekujur tubuhku ikut merasakan kesejukan yang tak dapat
dilukiskan dengan kata-kata. Aku selalu sendiri melewati setiap detik hidupku
yang Nampak membosanka dan minim cerita, lalu Erick hadir dan mewarnai seluruh
cerita hidupku yang awalnya hanya sebuah tulisan putih hitam membosankan dan
tak menarik. Dia membuat semua detik dalam hidupku yang mengerikan berubah
puitis seperti sajak-sajak indah yang ditulis oleh Khalil Gibran. Semua tentang
Erick adalah indah dan sejuk, seperti musim hujan yang baru saja berakhir.
Itu
adalah siang yang buruk dan aku begitu lemah untuk terus berdiri di tempat itu.
Dari kejauhan, aku melihat Erick berjalan ke arahku, dengan ketiga teman
wanitanya yang selalu mengelilinginya. Aku berharap, aku dapat menjadi orang
keempat yang berdiri di sampingnya, ikut tertawa saat mendengar
cerita-ceritanya, dan mencibirnya keika dia melakukan kekonyolan yang menarik.
Panas membuat penglihatanku tak begitu baik tetapi aku terus memfokuskan diri
melihat siluet Erick yang semakin mendekat dari kejauhan.
“Ciee…”
Lola tersenyum sambil menyikut rusuk Erick saat Erick lewat di hadapanku. Erick
tersenyum sambil mengacak rambut Lola.
“Kalo
lo ngacak rambut gue, ntar Anggi cemburu lho, Rick…” Lola menjauh dari
jangkauan tangan Erick.
“Apaan
sih lo, La?” Anggi merespon sambil tersenyum penuh arti kepada Erick.
“Tau
deh yang udah jadian…” Jelita tak mau ketinggalan turut meramaikan suasana.
Erick tersenyum dan menatap manis ke arah Anggi. Anggi balas menatapnya lalu
tersenyum.
“I
love you, Anggi.” Erick berkata pelan sambil tersenyum.
Duniaku
seperti runtuh. Rasanya seperti ada jutaan belatung menggigit tubuhku,
mengunyahku menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak dapat dikenali oleh
siapapun. Erick terus berlalu, masih menatap Anggi dengan tatapan penuh cinta.
Dia berlalu mengabaikan jutaan air mataku yang akhirnya tumpah. Meninggalkan
sebuah rumput liar yang sangat buruk, yang begitu mencintainya dan bertahan
untuk melihatnya.
Aku
adalah sebuah rumput liar yang jatuh cinta kepada seorang manusia dengan semua
kesempurnaan di dalam matanya. Aku begitu mencintainya hingga aku terus bertahan
melewati musim panas dan hujan, melewati keringnya tanah dan kerasnya angin,
terus berdiri dan bertahan sehingga dapat terus melihatnya. Tetapi
sebagaimanapun aku berusaha, meski dengan sangat keras dan tulus, aku tetap
hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang mencintai manusia sempurna
bernama Erick yang berada di luar jangkauanku.
Kau
tahu Erick, aku pikir aku tak mungkin bertahan di musim panas ini. ini adalah
musim panas terberat dalam hidupku setelah patah hati terparahku. Aku sangat
ingin berdiri tegak tetapi aku tak mampu. Aku pikir aku akan mati di musim
panas ini. Aku tak akan pernah melihatmu. Aku berdoa beberapa hari sebelum aku
mati untukmu. Aku berhrap kau selalu memiliki kehidupan yang bahagia dengan
Anggi. Mungkin mencintaimu adalah hal menyakitkan yang pernah aku rasakan
seumur hidupku, tetapi aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu. Meski aku
hanyalah sebuah rumput liar bernama Angelica yang malang dan tak terlihat, aku
selalu ingin kau tahu bahwa aku selalu menyukaimu. Aku tak mengerti bagaimana
caranya, tetapi aku dapat mencintaimu dengan semua keterbatasan indera yang
dimiliki oleh sebuah rumput liar sampai rumput liar itu mati.
“Erick,
apa yang kamu lihat?” Anggi menatap Erick saat Erick berhenti sesaat di sebuah
jalanan ramai itu. Erick masih terdiam dam terus menatap kosong.
Erick
hanya terdiam. Pandangannya menunjukan jutaan kesedihan yang tak mampu
dibahasakan.
“Sayang,
kamu kenapa sih?” Anggi bertanya lagi, kali ini sambil ikut menengok ke arah
tempat yang ditatap Erick.
“Rumput
liar yang ada di situ sepertinya udah mati.” Erick menjawab seadanya sambil
menunjuk ke pinggir jalan itu.
“Rumput
liar?” Anggi mengulang tak paham.
“Dulu,
dia selalu ada di sana setiap kita melewati jalan ini. Aku tahu, aku selalu
melihatnya.” Erick mengakhiri kata-katanya dengan seulas senyum kesedihan saat
menatap tempat tumbuhnya Angelica yang tampak kosong.
Meskipun
kisah cinta sang rumput lia bernama Angelica itu berakhir tragis, tetapi
setidaknya dia tahu bahwa Erick selalu menatapnya jauh sebelum dia menyadari
kehadiran Erick.
the end...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar