Sabtu, 12 Oktober 2013

Dear First Love

Mungkin kau sedang berada sekota denganku, sangat dekat dengaku, atau entah di manapun kau saat ini. Beberapa waktu terakhir, aku mulai berpikir dengan sebuah kedewasaan yang perlahan tumbuh di dalam otakku yang kecil ini. Kau tahu bahwa aku melewatkan banyak tahun dengan perasaan suka yang begitu besar kepadamu. Menyukaimu adalah perasaan aneh pertama yang terjadi dalam hidupku, dan aku selalu memikirkan itu bahkan bertahun-tahun setelahnya. Aku mengunjungi sebuah sekolah tinggi yang sama denganmu. Aku pikir, aku akan mengikutimu sepanjang hidupku hingga kau berpaling untuk melihatku. Aku berjanji bahwa aku akan selalu memegang tanganmu, bahkan jika kau selalu ingin melepaskan dan membuang aku ke jalan yang berlawanan denganmu. Aku merasa bahwa jika aku tidak melihatmu dalam beberapa waktu saja, nafas hangat yang ada dalam tenggorokanku mungkin saja hilang. Aku merasa jika kau pergi begitu jauh dariku, matahari akan membeku dan dunia perlahan akan kiamat. Aku menyukaimu dengan semua kegilaan yang aku bahkan tak tahu berasal dari mana, tiba-tiba saja perasaan gila itu menyusupi lapisan-lapisan perasaanku dan membuatku menjadi sesuatu yang penuh dengan kegilaan.

Dulu aku begitu mencintaimu, perasaan cinta yang begitu saja tumbuh dan menetap selama bertahun-tahun, membuatku hanya melihatmu, ingin terus melihamu, dan akan selalu melihatmu. Membuatku tidak bisa meninggalkan bayanganmu bahkan dalam satu detik hidupku. Perasaan cinta yang lebih mirip sebuah virus gila yang membuatku menangis dan tersenyum dalam waktu bersamaan. Perasaan yang bahkan membuatku akan mati jika mendengarmu menyukai orang lain.

Aku kembali ke kota yang sama denganmu, setelah delapan tahun sejak aku pertama kali bertemu denganmu. Kau tahu apa yang aku rasakan saat ini? Aku pikir, aku tidak menyukaimu lagi. Aku pikir aku mulai membenci semua tentangmu dan menyesali semua waktuku yang terbuang hanya karena dirimu. Kau tak pernah tahu, tentu. Dan kau tak pernah menginginkan atau meminta aku menjadi seperti ini. Aku tahu kau tak pernah berharap aku melewatkan banyak waktuku dengan semua perasaan asing tak bernama yang membuatku terkukung dalam lara berkepanjangan. Aku tahu kau tak pernah menginginkan aku untuk menjadi malang seperti yang pada akhirnya aku alami. Tetapi, jutaan kata pembelaan tak akan benar-benar membuatmu bersih dari  kesalahan yang tanpa sadari telah kau lakukan. Kesalahan dengan membiarkan diriku menjadi seperti ini. aku membenci semua air mata dan rasa sakit yang aku alami, untuk semua penantian tak berujung, dan untuk hal lain yang aku lepas hanya karena dirimu. Yah, kau benar. Aku sangat picik tentang perasaanku sendiri.

Aku tak menyukaimu lagi seperti saat pertama kali jantungku bergolak dengan irama tak beraturan yang membuat pipiku bersemu merah. Aku hanya ingin menganggapmu seperti aku menganggap kebanyakan orang dalam hidupku. Aku menangisi semua waktuku yang terbuang, semua sosok yang kulewatkan hanya karena dirimu, dan pada akhirnya hanya aku sendiri yang tersisa. Aku marah dengan dirimu, dengan kebodohanku yang akhirnya membuat aku menangis sendiri. Aku membuang ribuan cinta hanya untuk sebuah penyesalan mengerikan yang harus aku tangisi dalam sebuah senyum kepalsuan. Aku mengutuki semua perasaan cinta yang menenggelamkanku dalam sebuah jurang tak kasat mata sehingga aku bahkan tak tahu bagaimana untuk keluar dari sana dan menjalani hidup seperti orang kebanyakan. Kau tahu, aku membuang jutaan detik berhargaku, melewati pagi dan senja hanya menulis untukmu, dan akhirnya aku memaki semua tulisan konyol yang hanya membuatku terlihat tolol dan menyedihkan. Aku menulis ribuan angan dalam jutaan sajak indah yang akhirnya hanya berlabuh dalam sebuah tempat sampah tak berharga. Kau benar, aku membuang waktu delapan tahun yang sangat berharga, aku melewati banyak orang dengan banyak cerita, meninggalkan mereka dengan kebahagiaan mereka dan berjalan ke arah yang tak seharusnya. Dan aku ingin membunuh diriku karena bahkan tak sanggup untuk memperbaiki sedikit saja dari semua kesalahanku karena dirimu.

Aku membenci dirimu, dan semakin membenci dirimu. Aku memiliki perasaan suka kepada beberapa orang yang terlihat sepertimu, seolah-olah aku melihat dirimu dalam bentuk lain yang aku ekspektasikan. Aku menyukai beberapa orang karena memiliki telinga yang sama sepertimu, punggung yang mirip, tatapan mata yang nyaris sama, atau bahkan orang dengan potongan rambut yang sama denganmu. Aku melihat sosokmu dalam semua bagian-bagian kecil dari orang yang aku temui, dan menempatkan diriku ke dalam level gila yang semakin tinggi dan menyedihkan. Aku membuat semua orang terlihat sama denganmu, semakin sering dan membuat diriku bergelung dengan semua penyakit saraf yang tak ada obatnya. Aku manyakiti ribuan perasaan dan tak dapat meminta maaf untuk itu. Aku akan sangat membencimu.

Jika kau ada di kota yang sama denganku saat ini, sebua kota dengan atmosfir dingin yang seolah akan membekukan jutaan neuron di tubuhmu, aku tak tertarik untuk melihatmu. Jika aku mendengar bahwa kau akan menikah dengan perempuan yang sangat kau cintai, aku tak akan pernah menangis. Jika aku berpapasan denganmu di sebuah takdir, jantungku tak akan berdebar dengan irama yang salah. Jika aku melihatmu dari kejauhan, aku akan berbelok ke arah yang lain dan menghindarimu. Dan jika, kau datang dalam takdirku, aku akan menolakmu menjauh. Aku tak akan menulis untukmu, dan tak akan pernah berusahan berjalan ke arahmu. Delapan tahun setelah ini, dan setelahnya lagi, dan setelahnya lagi, takdir kita tak akan pernah bersinggungan. Kau dan aku akan berbagi jalan, kita akan berjalan berdampingan tetapi tak akan pernah bersinggungan, lalu kita akan menjauh.

Kau tahu, begitulah cara aku mencintaimu selanjutnya, Meky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar